Latest Post

Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Nama Prabowo dan Jokowi Tidak Ada Kaitannya Dengan Nomor Surat Al Qur'an

Written By Jurnalis on Saturday, June 7, 2014 | 10:30 PM

Belakangan ramai beredar broadcast BBM yang mengklaim berasal dari salah satu Da'i kondang namun kami belum bisa mengkonfirmasi apakah broadcast pesan tersebut memang dari Da'i tersebut atau hanya fiktif saja dan broadcast BBM ini dimuat di salah satu media online  suaranews.com ini linknya  bukan-syirik-aa-gym-menguak-tanda-alam 

Terlepas dari siapa pengirimnya, content atau isi broadcast BBM tersebut tidaklah pada tempatnya mengaitkan nama Capres yang sedang ikut kontestasi Pilpres 2014 dikaitkan dengan Nomor ayat - ayat Al Qur'an dan makna Al Qur'an.

Ajakan itu disebar melalui BlackBerry Messenger. Kami menerima pesan tersebut, berikut isinya:
Bbm dari AA Gym: NOT syirik or PERCAYA akan angka2! ABATA[Ayo Baca Tanda-Alam(y)]Jika A=1, B=2, C=3, ...,dst Z=26Maka :[1] P+R+A+B+O+W+O = 16+18+1+2+15+23+15 = 90
Yang unik ternyata[2]I+N+D+O+N+E+S+I+A = 9+14+4+15+14+5+19+9+1 = 90[3] Q.S. 90 >> Al Balad = NEGERI Insha Allah PRABOWO adalah pilihan Allah utk memimpin bangsa
Kemudian ada juga yang menulis

           Coba hitung JOKOWI J+0+K+0+W+I= 10+15+11+15+23+9 = 83.

           83 tuh di Al Quran mah Al Muthaffifiin (Orang2yang Curang)

            KEBETULAN..? Atau PERTANDA....??? 


Maka Broadcast  tentang nomor dan angka sebagai tafsir alquran patut dihindari dan jangan dianggap remeh bahkan hanya sebagai hiburan.
Tidak ada satupun dalil dr nash yg membolehkan sebaiknya utak atik gathuk seperti ini kita tinggalkan karena membahayakan akidah dengan menyandarkan nasib seseorangg pada hal selain Allah adalah tindakan tathayyur.

Kita dorong seluruh pihak agar berkampanye secara sehat dan menjauhkan diri dari sikap ghuluw agar kita termasuk dalam orang - orang yang beruntung.

Hendaknya kita lebih mengedepankan rasionalitas dan keilmuan sehingga tidak mengganggu aqidah kita hanya karena urusan Pemilihan Presiden.

Rasulullah SAW bersabda:

وَمَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

dan barangsiapa mengatakan tentang al-Qur'an dengan pendapatnya, maka bersiap-siaplah menempati tempatnya di neraka [HR. Turmudzi dari Ibnu Abbas]

مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَأَصَابَ فَقَدْ أَخْطَأَ

"Barangsiapa mengatakan tentang Al Qur`an dengan pendapatnya, maka dia tetap salah walaupun pendapatnya benar." [HR. Turmudzi dari Jundub bin Abdillah]

*redaksiSP


Praxis and Religious Authority in Islam: The Case of Ahmad Dahlan, Founder of Muhammadiyah

Description
Otoritas tertinggi dalam Islam adalah al-Qur'an dan hadis. Namun pertanyaan akan siapa yang paling otoritatif untuk menafsirkan dua sumber hukum tersebut hingga sekarang terus menjadi perdebatan. Para ahli Islam setidaknya mencatat beberapa sumber otoritas dalam Islam. Pertama, karena sumber utama Islam berbahasa Arab, maka hanya mereka yang paham struktur gramatika, kosakata, semantik, dan retorika bahasa Arab sajalah yang dapat dan sah untuk menafsirkannya.

Kedua, di beberapa daerah, tradisi lokal memiliki peran cukup penting dalam penentuan otoritas keagamaan. Di Afrika dan Asia Tenggara, misalnya, otoritas keagamaan cenderung diberikan kepada seseorang yang memiliki atau menguasai kekuatan gaib tertentu. Sementara di daerah yang memiliki tradisi sufi cukup kuat, otoritas itu diberikan kepada seseorang yang berhasil memperoleh kekeramatan lewat praktik-praktik asketik, atau karena memiliki latar belakang genealogis dengan Nabi.

Ketiga, dalam konteks masyarakat modern, pendidikan dan penerjemahan kitab suci ke beberapa bahasa rupanya menjadikan konsep tentang otoritas dalam Islam mengalami perubahan yang cukup signi kan. Di masa ini, kapabilitas seseorang dalam menafsirkan urusan duniawi ke dalam istilah-istilah yang sangat Islami serta penegasan atas komitmen keislaman menjadi kata kunci untuk menentukan siapa yang berhak memiliki otoritas keislaman. Dalam konteks itu, seseorang yang meski tidak memiliki penguasaan ilmu-ilmu tradisional keislaman dan pernah belajar kepada ulama kenamaan dalam rentang waktu tertentu, namun memiliki kepekaan wacana Islam dalam berbagai urusan yang bersifat duniawi dapat dipandang sebagai orang yang memiliki otoritas keagamaan.

Konteks modernitas tersebut pada gilirannya menerbitkan sebuah pertanyaan bagaimanakah Islam melihat atau menilai praksis di ranah politik-ekonomi dan sosial-budaya serta peran apakah yang dapat dimainkannya dalam pembentukan legitimasi dan kepemimpinan keagamaan. Untuk itu, tulisan ini coba memotret K.H. Ahmad Dahlan. Ia adalah sosok yang meski tak berlatar pendidikan Islam asuhan ulama besar dan tak memiliki kekuatan mistis sebagai sumber otoritas tradisional, berhasil mendirikan salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah. Otoritas keagamaan yang disematkan kepada tokoh kelahiran Yogyakarta pada 1868 ini lebih bersumber pada praksis dan dedikasinya di dunia pendidikan, reformasi pandangan keislaman tradisional, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil.

Di bidang keagamaan, Dahlan terpengaruh oleh pandangan reformis Islam Muhammad Abduh, Jamaluddin al-Afghani, dan Rasyid Ridha. Dari situ Dahlan berkeyakinan bahwa praktik keislaman semestinya dikembalikan pada ajaran al-Quran dan hadis. Ia kemudian berusaha membersihkan seluruh praktik keagamaan umat Islam Indonesia dari unsur budaya yang tidak Islami, sinkretis. Di bidang pendidikan, tidak seperti tokoh agama pada umumnya, ia sangat mengapresiasi ilmu pengetahuan modern dan capaian peradaban Barat. Ia keberatan dengan pandangan tradisional yang menyatakan bahwa Islam bertentangan dengan modernitas dan karenanya harus menolak semua pengaruh budaya Barat.

Apresiasi terhadap Barat inilah yang di kemudian waktu menjadi alasan Dahlan untuk bergabung dengan Budi Utomo, sebuah organisasi modern yang salah satu konsentrasinya adalah memajukan pendidikan untuk kaum pribumi. Sementara di bidang ekonomi, Dahlan begitu mengutamakan kemandirian dan pemberdayaan kaum miskin. Ia sangat memperhatikan kaum yang disebut terakhir itu dan kerap membantunya hingga memiliki kemandirian ekonomi.

Faktor-faktor di atas, terutama pengalaman di organisasi modern dan keinginan yang kuat untuk mewujudkan pendidikan modern, akhirnya memunculkan keyakinan Dahlan untuk mendirikan sebuah organisasi Islam bernama Muhammadiyah. Lewat pendirian organisasi inilah semua idealitas pandangan keagamaan Dahlan disuarakan. Dan dengan itu, otoritas keagamaan Dahlan pun semakin tak tergoyahkan.

Di atas segalanya, satu poin penting yang membuat otoritas keagamaan Dahlan diakui adalah pandangan keagamaannya yang berbasis pada sisi praksis. Baginya, memahami kitab suci tak bisa dilakukan hanya dengan menghapal dan menafsirkan. Lebih penting dari itu semua adalah aksi nyata, mempraktikkan ajaran (‘amal). Dari perjalanan Ahmad Dahlan, tulisan ini menyimpulkan bahwa praksis di bidang politik-ekonomi dan sosial-budaya dapat menjadi salah satu sumber legitimasi bagi pembentukan otoritas keagamaan dalam konteks masyarakat Islam modern.

Author: Hyung-Jun Kim   Studia Islamika Volume 17, Number 1,
*(muhammadiyahstudies/SP)

Kegamangan Politik Warga Muhammadiyah Jelang Pilpres

Written By Jurnalis on Friday, June 6, 2014 | 9:30 PM

AKHIR pekan lalu, antara 23-25 Mei, Muhammadiyah menggelar sidang tanwir (rapat kerja nasional) di Samarinda, Kaltim. Sebenarnya, sidang tanwir itu merupakan acara tahunan, tetapi kali ini menjadi istimewa karena merupakan tahun politik yang penting. Dua calon presiden (capres), yakni Joko Widodo dan Prabowo Subianto, hadir dalam acara yang didatangi elite pimpinan Muhammadiyah se-Indonesia tersebut.

Menurut Prof Dr M. Amien Rais, mantan ketua umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, dalam wawancaranya dengan sebuah TV nasional, sambutan terhadap kehadiran capres Jokowi hanya ”suam-suam kuku”. Sebaliknya, sambutan atas kehadiran capres Prabowo sangat gegap gempita, bahkan diselingi gema takbir segala. Salah satu keberhasilan Prabowo memikat peserta tanwir adalah ceramahnya yang selaras dengan tema yang sedang digandrungi kalangan Muhammadiyah saat ini: Indonesia yang Berkemajuan.

Namun, sebagaimana sudah diduga, pernyataan resmi sidang tanwir yang dibacakan Agung Danarto, sekretaris umum PP Muhammadiyah, organisasi Islam modernis ini menyatakan netral dalam pilpres nanti. Warga Muhammadiyah dipersilakan memberikan suara sesuai dengan keputusan dan pilihan hati nurani masing-masing. Namun, dalam konferensi pers penutupan acara tanwir tersebut, ada pernyataan yang unik dari Din Syamsuddin, ketua umum, yang menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak berafiliasi dengan parpol mana pun dan koalisi apa pun. Meski tidak tersurat, sudah jelas pernyataan Din ini ditujukan kepada PAN yang aktivisnya banyak dari kalangan Muhammadiyah.

Pernyataan resmi sidang tanwir ataupun keterangan pers Din ini sekali lagi menunjukkan kegamangan sikap politik kalangan elite Muhammadiyah. Sebab, ketika tanwir memutuskan netral, pada waktu yang sama Saleh P. Daulay (ketua umum PP Pemuda Muhammadiyah) tegas menyatakan bahwa Pemuda Muhammadiyah memberikan dukungan kepada Prabowo-Hatta Rajasa. Sikap ”mbalelo” kalangan muda Muhammadiyah terhadap induknya ini bukan tanpa sebab. Sudah lama sikap politik Muhammadiyah di bawah Din sering konfrontatif terhadap pemerintahan Presiden SBY dan kepada Ketua Umum PAN Hatta Rajasa yang kebetulan adalah besan presiden. Ini tidak selaras dengan konsep netralitas yang selama ini dianut ormas Islam terbesar kedua di Indonesia tersebut.

Netralitas Muhammadiyah bukanlah hal yang baru. Di masa yang sulit pada zaman Orde Baru, KH A.R. Fachruddin pun selalu menyatakan netral politik. Presiden Soeharto menghargai pilihan politik itu dan tetap menjaga hubungan harmonis antara pemerintah dan Muhammadiyah. Ketika sekolah-sekolah Muhammadiyah digencet Mendikbud Daoed Joesoef, Pak AR –sapaan KH A.R. Fachruddin– tidak melawan dengan konfrontasi, tetapi memilih sowan ke Pak Harto dan membicarakan masalahnya dengan tuntas. Dengan pendekatan yang ”luwes” dan ”njawani” ini, Muhammadiyah tetap mendapat tempat di kalangan pemerintah.

Din Syamsuddin memang bukan orang Jawa. Jadi, kita tidak bisa berharap banyak dia punya sikap yang ”njawani” seperti Pak AR. Namun, sesungguhnya ada nostalgia di sebagian kalangan warga Muhammadiyah agar ketua umum punya sikap yang luwes. Pak AR hendaknya menjadi teladan bagi PP Muhammadiyah. Wajar jika saat ini sudah muncul gerakan ”jangan salah pilih” ketua umum Muhammadiyah dalam muktamar tahun depan. Warga sangat merindukan sosok yang teduh dan kalem seperti Pak AR. Semua warga Muhammadiyah juga tahu bahwa Pak AR hidup sederhana, ke mana-mana naik sepeda motor Yamaha butut. Untuk menambah penghasilan pensiunnya, Pak AR terpaksa berjualan bensin secara eceran di depan rumah dinas Muhammadiyah di Jl Cik Di Tiro. Saat ini rasanya sudah tidak ada anggota PP Muhammadiyah yang naik motor butut seperti Pak AR.

Meski hidup sederhana, dalam hal memimpin Muhammadiyah, Pak AR sangat tegas, tapi fleksibel. Ketegasan sikap Pak AR itu yang membuat warga Muhammadiyah tidak pernah galau dan gamang dalam berpolitik. Sebaliknya kondisi saat ini, meski resminya netral, ada pimpinan Muhammadiyah yang bersikap anti-PAN, tetapi dalam waktu yang sama ikut membidani berdirinya Baitul Muslimin (Bamus), sayap Islam PDIP. Dengan demikian, layak seruan netral itu dipertanyakan. Yang kita harapkan adalah Muhammadiyah menerapkan semacam ”politik bebas dan aktif” mirip politik luar negeri RI. Dalam konsep ini, warga Muhammadiyah bisa berpartisipasi aktif dengan kekuatan politik mana pun sepanjang hal itu membawa kemaslahatan bagi umat dan persyarikatan.

Dengan politik Muhammadiyah yang bebas dan aktif, warga persyarikatan akan terbebas dari kegamangan dan kegalauan sikap. PP Muhammadiyah juga tidak perlu menghadapi ”pemberontakan” dari kalangan muda seperti sikap Pemuda Muhammadiyah yang mendukung Prabowo-Hatta. Sebab, mereka juga melihat ketidakadilan sikap dari sebagian pimpinan Muhammadiyah. Oleh karena itu, PP Muhammadiyah juga tidak perlu reaktif, misalnya, dengan menjatuhkan hukuman represif kepada PP Pemuda Muhammadiyah. Justru yang harus dipertanyakan adalah apakah pernyataan dukungan Pemuda Muhammadiyah itu merupakan sikap resmi organisasi atau sikap pribadi Saleh Daulay yang terpilih sebagai caleg DPR dari PAN. Jika bukan keputusan resmi hasil sidang pleno PP Pemuda Muhammadiyah, hal itu hanya layak disebut dukungan perorangan.

Sangat disayangkan jika warga Muhammadiyah sekarang ini, khususnya di kalangan pimpinan di semua jajaran, sudah mulai melupakan teladan para sesepuh yang telah mendahului. Sangat banyak pelajaran yang bisa diambil dari proses politik di masa lalu. Misalnya bagaimana R Moejadi Djojonegoro diangkat sebagai menteri sosial zaman Bung Karno tanpa mengusik Muhammadiyah. Bagaimana kisah KH Ahmad Badawi menahan godaan tawaran Soeharto untuk menjadikan Muhammadiyah ormaspol setelah geger 1965. Bagaimana pula Buya Hamka menghadapi geger ”fatwa Natal” ataupun KH A.R. Fachruddin yang menyelesaikan masalah ”asas tunggal” untuk Muhammadiyah.

Muhammadiyah yang sudah berusia satu abad lebih semestinya bisa memberikan pelajaran yang baik bagi kader-kadernya yang hidup di zaman sekarang. Tidak usah galau dan gamang dalam memilih dua pasangan capres-cawapres sekarang ini. Pilihlah pasangan yang akan memberikan kemaslahatan bagi umat, persyarikatan, bangsa, dan negara. (JawaPos/SP)

*) Djoko Susilo Mantan Ketua PP Pemuda Muhammadiyah (1998–2002)

Sejarah Masuknya Islam dan Peran Dakwah Muhammadiyah di Alor NTT

Written By Jurnalis on Thursday, June 5, 2014 | 4:00 AM

Kabupaten Alor sebagai salah satu dari 16 Kabupaten/Kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah wilayah kepulauan dengan 15 pulau yaitu 9 pulau yang telah dihuni dan 6 pulau lainnya belum atau tidak berpenghuni. Luas wilayah daratan 2.864,64 km², luas wilayah perairan 10.773,62 km² dan panjang garis pantai 287,1 km. Secara geografis daerah ini terletak di bagian utara dan paling timur dari wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur pada 8º6’LS – 8º36’ LS dan 123º48’ BT – 125º48’ BT. Batas alam Kabupaten Alor di sebelah utara dengan Laut Flores, sebelah selatan dengan Selat Ombay, sebelah timur dengan Selat Wetar dan perairan Republik Demokratik Timor Leste dan sebelah barat dengan Selat Alor (Kabupaten Lembata).
 
Pulau Alor merupakan bagian dari Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sekitar 260 km dari Kupang (Ibu Kota Provinsi NTT), 360 km dari Ende (Flores), dan 1600 km sebelah Timur Ibu Kota Jakarta. Lokasi ini bisa dicapai dengan menggunakan kapal boat dari Kupang selama sekitar 8 jam atau 55 menit dengan menggunakan pesawat udara melalui Bandara Mali.

Secara geografis kondisi daerah Alor merupakan daerah dengan pegunungan yang tinggi, dibatasi oleh lembah juga jurang yang cukup dalam dan sekitar 60 persen wilayahnya mempunyai tingkat kemiringan di atas 40 persen. Iklim yang tidak menentu merupakan hambatan atau masalah yang klasik di Alor. Selain itu curah hujan yang juga tidak menentu dan merata dimana musim penghujan relatif lebih pendek daripada musim kemarau. Keadaan geografis yang berbukit dan wilayah yang terjal merupakan tantangan tersendiri bagi para dai.

Sejarah Masuknya Islam
Badruzzaman, peneliti pada Balai Litbang Agama Makassar, menuliskan bahwa agama risalah yang paling pertama masuk di Kabupaten Alor adalah Agama Islam. Agama yang diperkirakan masuk pada abad 16 Masehi (ada pula sumber yang menyatakan abad 14 Masehi) bersamaan dengan jayanya Kerajaan Islam di Ternate, Maluku yaitu masa kesultanan Sultan Ternate yang bernama Babullah. Islam masuk ke Alor dengan dibawa oleh seseorang bernama Iang Gogo bersama-sama dengan lima orang saudaranya (demikian dituturkan Bapak Saleh Pango Gogo, keturunan ke 13 Iang Gogo).

Dalam perjalanan, mereka berkesempatan singgah di salah satu daerah kecil yang sekarang disebut Desa Aimoli, tempat berdiamnya Raja Baololong I. Mereka membangun persaudaraan dengan Raja Baololong.

Bentuk jalinan persaudaraan tersebut, sebelum mereka melanjutkan perjalanan, adalah kelima bersaudara mengadakan tukar menukar kenang-kenangan dengan Raja Baololong I. Kenang-kenangan persaudaraaan berupa Moko (Nekara perunggu peninggalan Kebudayaan Dongson, Vietnam) yang diserahkan oleh Iang Gogo dan saudaranya sedangkan Raja Baololong membalas persahabatannya dengan menyerahkan Pisau.

Dari perjalanan ke Pulau Pantar khususnya ke Balagar kelima bersaudara meneruskan perjalanan ke Tuabang. Di Tuabang inilah mereka bersepakat untuk berpisah dengan masing-masing membawa sebuah Alquran (terbuat dari kulit kayu) dan pisau khitan, sebagai bekal menyiarkan Agama Islam. Ilyas Gogo menetap di Tuabang, Iang Gogo ke Alor Besar (tempat dimana Alquran Kulit Kayu disimpan dan dipelihara dengan baik hingga saat ini), Djou Gogo ke Baranusa, Boi Gogo ke Pulau Adonara (Lamahala) Flores Timur dan Kimalis Gogo ke Kui (Lerambaing) Kecamatan Alor Barat Daya. Di tempat masing-masing itulah kelima bersaudara melakukan tugas mulia yaitu menyiarkan Agama Islam kepada pada penduduk yang saat itu masih menganut kepercayaan lokal.

Dari awal kedatangan Iang Gogo di Alor Besar, Agama Islam mulai tersebar di Kabupaten Alor. Iang Gogo menyampaikan Alquran Kulit Kayu kepada Raja Baololong II, sekaligus melakukan aktifitas keagamaan sebagai Guru Agama Islam kepada penduduk dengan mengajarkan tata cara mengaji, shalat lima waktu, puasa zakat, berakhlak mulia dan lain-lain sekaligus sebagai juru khitan.

Generasi Baru Dakwah Islam
Saat ini, lembaga sosial keagamaan Islam dan lembaga pendidikan Islam sudah mulai tumbuh di Kabupaten Alor. Dalam rentang waktu yang sangat panjang, saat ini juga telah banyak pemuda muslim dari Alor yang menimba ilmu Islam di Pulau Jawa. Baik dalam pesantren maupun sekolah dan universitas. Sarjana dan lulusan pesantren itu telah banyak pula yang kembali ke Alor dan berkiprah dalam mengembangkan Alor dan dakwah Islam.

Abdullah Rahman Shaleh, dai muda (36 tahun) yang kelahiran Marica (Desa Kayang), misalnya dapat dikatakan sebagai penerus tongkat estafet dakwah Islam di Alor. Sudah sekitar dua tahun secara rutin ia menyambangi pulau-pulau di Kabupaten Alor untuk berdakwah. Pada tahun 2007, Rahman direkomendasikan sebagai Dai Muhammadiyah dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Alor NTT. Ia diusulkan menjadi Dai Muhammadiyah di Kecamatan Teluk Mutiara dan Kecamatan Alor Barat Laut.

Pertimbangan dari PDM Kabupaten Alor terhadap kebutuhan Dai pada waktu itu adalah posisi kehidupan beragama di Kabupaten Alor-NTT di mana umat Islam merupakan kelompok minoritas dan rawan kristenisasi, sehingga perlu mendapatkan perhatian. Dai yang khusus membina umat di wilayah Kecamatan dan Pedesaan pun belum ada pada saat itu.

Melihat pertimbangan itu, MTDK PP Muhammadiyah mengangkat lulusan Program Studi Sastra Arab Universitas Gajah Mada (UGM) ini sebagai dai khusus untuk Program Dakwah Terpencil wilayah Kabupaten Alor-NTT pada tahun 2008. Sebagai dai khusus, hari-hari Rahman diisi dengan dakwah di berbagai tempat. Terutama di daerah terdekatnya dengan pembinaan kepada anak-anak di lingkungan terdekat. Kegiatan pembinaan bagi anak-anak dilakukan dengan mengadakan pengajian dan mengajar Al Quran. Selain itu, memakmurkan masjid dengan melakukan pembinaan jamaah dan generasi muda.

Setiap pekan da’i khusus ini juga mengunjungi desa-desa untuk berkhutbah. Tidak hanya sekali, tetapi kadang lebih dari itu ketika ada undangan untuk mengisi materi di suatu tempat dengan jarak yang jauh. Tidak jarang ia harus naik-turun bukit melintasi jalan yang rusak dan juga menyeberang laut ke pulau-pulau lainnya di Kabupaten Alor. Kegiatan pekanan yang dilakukan kebanyakan adalah khutbah Jumat dan ceramah-ceramah di berbagai majelis ta’lim. Di sela-sela kesibukannya sebagai dai ia juga menjadi Dosen Luar Biasa Universitas Muhammadiyah Kupang, Kampus II Kalabahi pada 2008.

Kondisi alam di Alor membuat beberapa daerah menjadi sulit dijangkau. Selain sarana jalan masih kurang baik, juga disebabkan transportasi laut yang membutuhkan biaya tinggi. Kondisi alam seperti itu tentu menjadi tantangan tersendiri di dalam penyampaian dakwah Islam dan pengembangan umat. Apalagi dana untuk dakwah terpencil yang dianggarkan dapat dikatakan sangat tidak memadai dengan memperhatikan kondisi Alor yang seperti itu. Kendati demikian, upaya para dai dalam membingkai pulau-pulau di Alor dengan dakwah Islam tidak tersurutkan. Bahkan memperlihatkan geliat dakwah yang lebih baik.

Di samping Rahman, ada pula Gunawan Bala. Pemuda kelahiran Pulau Kangge, 12 April 1977 ini sejak tahun 2004 telah memulai aktivitas dakwah bersama teman-temannya yang rata-rata adalah lulusan pesantren maupun universitas di Pulau Jawa. Dakwah yang dilakukan pertama kali secara non formal dan bersifat umum. Berbekal pengalaman dari pendidikan pesantren di Jawa Barat, kegiatan dakwah yang pertama kali dilakukan Gunawan bersama teman-temannya itu dibungkus dengan rangkaian program Safari Ramadhan di Kabupaten Alor.

Dai tamatan pesantren Persis yang juga sempat direkomendasikan PDM Kabupaten Alor sebagai Dai Muhammadiyah di Kecamatan Pantar, Pantar Timur dan Kecamatan Pulau Pura ini sering bersama ormas-ormas Islam yang ada melaksanakan berbagai pembinaan-pembinaan di masjid-masjid, yaitu pembinaan Khatib, Imam, Azan, dan Pengurus Mesjid sebagai inti dari penyelenggara masjid. Kegiatan itulah yang menjadi fokus utama dakwah saat itu.

Selanjutnya, ormas-ormas Islam seperti Muhammadiyah, Persatuan Islam, dan lembaga-lembaga dakwah lokal misalnya eLDaTa (Lembaga Dakwah dan Ta’lim) dimana perintisnya adalah Alumni dari pesantren di Jawa telah membina beberapa masjid di beberapa kecamatan di Kabupaten Alor. Ia mengatakan bahwa sampai hari ini dakwah yang dilakukan oleh para dai sudah hampir merata di seluruh pelosok Alor. Baik yang bergerak secara kelembagaan melalui lembaga-lembaga pendidikan sebagai guru ataupun dengan ormas-ormas Islam bersama dalam melaksanakan program-program dakwah rutin semacam Ta’lim pekanan bekerjasama dengan majelis ta’lim setempat. Baik majelis ta’lim Aisyiyah, Persistri, ataupun ibu-ibu Dharma Wanita yang berasal dari istri-istri pegawai negeri sipil.

Selain ormas-ormas Islam yang menyemarakkan dakwah, di Alor ada pula kelompok-kelompok suku seperti pemuda Sulawesi Selatan dan keluarga besar dari himpunan Jawa, yang merantau dan punya Majelis Ta’lim sendiri di Alor. Kelompok itu menjalankan pengajian tersendiri akan tetapi dai-dai baik dari Muhammadiyah maupun Persis dan eL DaTa yang mengisi kajian-kajian di sana. Jadi, artinya dakwah sekarang walaupun berjalan baru beberapa tahun sudah sampai ke pelosok-pelosok desa yang sangat jauh dari jangkauan sebelumnya dan juga dari beragam latar belakang. Selain itu, berkat dakwah dari generasi awal Islam seperti Iang Gogo di Alor dan pantang surutnya dai-dai muda saat ini hampir semua pulau telah terdapat kelompok muslim.

Kendati muslim hanya sekitar 27 % dari jumlah penduduk yang ada, Gunawan Bala mengungkapkan bahwa tidak ada tekanan yang berlebihan dari kelompok agama lainnya. Bahkan, secara politik perwakilan dari Partai Islam yang ada dapat menduduki lebih dari lima kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah di Alor. Yang menarik perhatian adalah banyak orang Islam yang kuliah di Universitas Katolik Widya Mandira (Unika) Kupang dan Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Sebaliknya, 70 persen non muslim menjadi mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Kupang (UMK).

Mengenai upaya pengembangan umat, Rahman mengungkapkan bahwa potensi yang dapat dikembangkan adalah budidaya rumput laut yang mulai berkembang di masyarakat pesisir. Di samping itu, pada masyarakat di dataran tinggi cengkeh merupakan salah satu komoditi terbaik yang dapat dikembangkan. Untuk kondisi alam seperti Alor, Gunawan Bala mengusulkan agar dai bersama lembaga Islam lainnya juga dapat mengembangkan transportasi laut sehingga dapat memajukan ekonomi umat dan mempermudah gerak dakwah para dai dari pulau ke pulau. [sp/senyumislam]

Perjuangan Perda Syariat Islam di Sulawesi Selatan

Written By Jurnalis on Wednesday, June 4, 2014 | 5:00 PM


Oleh: Syaiful Anshor
PENEGAKAN Syariat Islam di Indonesia seolah jadi isu yang tidak pernah mati. Sejak lama, perjuangan umat Islam untuk menegakkan syariat Islam di Tanah Air tidak pernah surut. Baik usaha secara kultural maupun struktural-konstitusional. Sejak tujuh kata dalam Piagam Jakarta dihapus, ekspektasi penerapan syariat Islam umat Islam tidak begitu signifikan. Meski begitu, umat Islam tidak putus asa dan masih berjuang dengan segala cara. Salah satunya yang dilakukan Nangro Aceh Darussalam yang telah dapatprivillege khusus dari pemerintah berupa otonomi khusus (otsus) untuk menegakkan Syariat Islam.
Hal serupa juga dilakukan di bumi Sulawesi Selatan. Perjuangan ini dilakukan oleh sejumlah tokoh dan ulama yang tergabung dalam Komite Persiapan Penegakan Syariat Islam (KPPSI) yang dikomandani langsung oleh putra pejuang legendaris Sulsel, Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar. Meski begitu, usaha untuk menegakkan syariat Islam di Indonesia bagian timur ini tidak seperti membalikkan telapak tangan. Perjuangan KPPSI agar Sulawesi Selatan dapat otsus penegakan syariat Islam sampai sekarang belum terwujud. Salah satu sebabnya, belum dapat rekomendasi dari gubernur untuk diajukan ke pemerintah pusat.
Sepanjang sejarah, penegakan syariat Islam di Tanah Air selalu diwarnai pro-kontra. Hal itu karena syariat Islam masih dipandang negatif dengan sederet stigma miring. Syariat Islam dinilai melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) karena ada hukum potong tangan dan rajam. Tak sedikit orang yang takut jika syariat Islam diberlakukan. Khususnya kaum sekular-pluralis. Mereka menentang habis-habisan dan secara terang-terangan penegakan syariat Islam. Tak hanya itu, aktivis syariat Islam juga dicitrakan buruk, seperti kelompok radikalis, ekstrimis, dan subversif. Padahal, syariat Islam tidak sesempit pandangan mereka.
Kendati perjuangan KPPSI agar Sulsel dapat otsus penegakan syariat masih jauh, bukan berarti tidak memiliki sumbangsih terhadap pembangunan negara. Setidaknya, penegakan syariat Islam berupa Peraturan Daerah (Perda) bernuansa Islam yang digulirkan di Kabupaten Bulukumba jadi bukti bahwa syariat Islam telah memberikan sumbangsih signifikan terhadap pembangunan daerah. Hal itulah yang dirasakan Mantan Bupati Kabupaten yang terletak di ujung Selatan Provinsi Sulsel ini yang menjabat selama dua periode, 1995-2000 dan 2000-2005, Drs. H. Andi Patabai Pabokori.
Andi Patabai tergolong sukses memimpin Kabupaten Bulukumba. Dari sisi APBD naik signifikan. Begitu juga tingkat kriminalitas. Dari yang sebelumnya angka kriminalitas tinggi, setelah kepemimpinannya turun drastis. Seluruh Muslimah mengenakan pakaian Muslim. Masyarakat Muslim Bulukumba pun pandai membaca Al Quran. Kegiatan keagamaan selalu semarak. Non Muslim pun merasakan manfaatnya hingga tak sedikit yang justru mendukung perda. Gara-gara kesuksesan itu, dia pun dipercaya masyarakat untuk jadi Bupati selama dua periode. Katanya, bahkan, seandainya boleh mencalonkan untuk ketiga kali, masyarakat berharap dia maju kembali jadi Bupati.
Ketika pertama memimpin Bulukumba, Patabi cukup miris melihat kondisi masyarakatnya. Kriminalitas tinggi. Pemerkosaan, pembunuhan, dan pencurian kerap kali terjadi. Begitu juga miras banyak diperjual belikan. Karena itu, dia berfikir, cara untuk menanggulangi itu semua hanya satu: dengan syariat Islam. Patabai pun berfikir simpel. Syariat itu tidak mesti harus dengan rajam dan potong tangan. Tapi, hal-hal sederhana, seperti baca tulis Al-Quran, melarang penjualan miras, kewajiban mengenakan baju muslimah bisa mencegah praktik kriminalitas.
Dia yakin dengan itu masyarakat di Bulukumba bisa hidup aman, nyaman, dan tenang. Konsep format atau wadah penerapan syariat Islam yang dilakukan Patabai berupa Perda bernuansa Islam. Dia membuat empat Perda. Antara lain: Pertama, Perda Nomor: 03 tahun 2002 tentang larangan, pengawasan, penertiban, dan penjualan minuman beralkohol. Kedua, Perda Nomor: 02 Th. 2003 tentang Pengelolaan Zakat Profesi, Infaq, dan Sedekah. Ketiga, Perda Nomor: 05 Th. 2003, tentang Berpakaian Muslim dan Muslimah. Keempat, Perda Nomor : 06 Th. 2003 tentang Pandai Baca Al Quran bagi siswa dan Calon Pengantin.
Perda-perda itu ternyata sangat efektif. Dalam tempo dua tahun, masyarakat telah merasakan efeknya. Kriminalitas turun drastis. Tidak ada lagi orang jualan miras. Tidak ada lagi pencurian. Bahkan, katanya, binatang peliharaan dan kendaraan jika dibiarkan di luar rumah pada malam hari akan aman. Khususnya untuk zakat. Pendapat zakat naik drastis. Patabai mewajibkan jajaran pejabat daerah untuk menyisihkan gajinya untuk zakat. Dana itu pun bisa terkumpul ratusan juta rupiah per bulan dan bisa digunakan untuk membantu masyarakat.
Apa yang terjadi di Bulukumba sebenarnya potret baik penegakan syariat Islam. Meski masih berupa empat perda. Hal itu menandakan jika syariat Islam ditegakkan akan memberikan manfaat, bukan mafsadah. Hal itu sekaligus menepis ketakutan sejumlah kelompok dan tanggapan miring tentang syariat Islam bahwa syariat Islam itu menyelamatkan, bukan saja umat Islam, tapi juga non-Muslim.
Ijtihad
Perda bernuansa syariat Islam yang sukses dilakukan Patabai adalah sebagai bentuk ijtihad penegakan syariat Islam dalam konteks formal-struktural. Syariat Islam itu tidak mesti identik dengan atau menunggu daulah Islamiyah atau khilafah Islam. Format wadah syariat Islam bersifat fleksibel, tidak absolut (qothi’). Hal itu membuka ruang ijtihad. Ijtihad itu justru satu sisi lebih efektif dalam membumikan Islam dalam konteks formal.
Diskursus wadah penerapan syariat Islam juga mengemuka dalam kongres KPPSI yang diadakan di Asrama Haji Sudiang, Makassar 7-9 Maret ini. Amir KPPSI, Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar mengatakan tidak ada dalil qothi baik dalam al Quran maupun hadits yang mengatakan daulah Islamiyah. Karena itu, wadah syariat Islam bersifat ijitihadi dan fleksibel. Fleksibelitas itu bisa diterjemahkan ke berbagai cara. Bisa melalui otonomi khusus, bisa melalui perda-perda syariat Islam, atau daerah Islam binaan. Tergantung probabilitas yang paling memungkinkan.
Karena itu, apa yang dilakukan mantan Bupati Bulukumba patut ditiru. Setidaknya, dengan digulirkannya perda-perda bernuansakan syariat Islam bisa membantu pembangunan daerah dengan menciptakan stabilitas keamanan, ekonomi dan religiusitas masyarakat.[sp/hidayatullah]

Dakwah Mencerahkan Indonesia, Tajdid yaitu Purifikasi dan Dinamisasi

Written By Jurnalis on Tuesday, June 3, 2014 | 10:00 PM



Oleh Dr. H. Haedar Nashir M.Si

Indonesia sebagai Negeri Muslim terbesar di dunia sesungguhnya merupakan ladang subur bagi gerakan - gerakan dakwah untuk menyemai benih - benih ajaran Islam sehingga melahirkan buah peradaban yang utama. Nusantara yang dulu mayoritas beragama Hindu dan kepercayaan lokal berubah total menjadi negeri dengan penduduk terbesar umat Islam. Hal itu tidak terlepas dari cara berdakwah yang mampu memikat hati dan menawarkan jalan hidup yang memberi harapan terbaik bagi masyarakat di negeri kepulauan ini.

Islam laksana matahari yang menyinari bumi Indonesia sehingga anugerah iman umatnya tetap terawat subur sampai sekarang. Sungguh tak ada perubahan yang signifikan pada prosentase kepemelukan agama di negeri ini, hingga umat Islam tetap mayoritas dengan 88,21% (Sensus 2010) dibandingkan penganut agama-agama lain. Peluruhan prosentase hanya di kisaran satu. Sehingga masih tetap memberi jaminan pada kepemelukan agama Islam dan tentu saja masih bisa ditingkatkan lagi dengan usaha-usaha dakwah yang lebih unggul.

Karenanya pertu meninjau ulang dan memperbarui pesan, pendekatan, strategi, dan langkah-Iangkah dakwah Islam agar selain mampu merawat jumlah kepemelukan sekaligus secara kualitas menjadikan pemeluk Islam sebagai umat terbaik (khair al-ummah) di negeri ini. Dakwah Islam harus benar-benar mencerahkan Indonesia. Di sinilah pentingnya dakwah pencerahan yang menyinari penduduk negeri, sehingga Indonesia menjadi negara dan bangsa yang berkemajuan.

Dakwah Pencerahan

Dakwah pencerahan ialah usaha-usaha menyebarluaskan dan mewujudkan ajaran Islam sehingga melahirkan perubahan ke arah yang lebih baik, unggul, dan utama dalam kehidupan pemeluknya dan menjadi rahmat bagi masyarakat luas di semesta alam. Dakwah pencerahan dalam setiap usahanya bersifat membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan di segala bidang dan Iingkup menuju raihan terwujudnya peradaban yang utama. Dakwah yang demikian memertukan pembaruan terus-menerus sehingga bersifat unggul dan alternatif.

Dakwah pencerahan sesungguhnya senapas dengan juwa dan konsep dakwah itu sendiri. Dakwah itu sifatnya mengeluarkan umat manusia dari segala bentuk kegelapan-kejahiliyahan menuju pada keadaan terang-benderang atau takhrij min al­ dhulumat ila al-nur (AS AI-Baqarah: 257). Itulah dakwah yang berwatak tanwir, yakni dakwah pencerahan. Sejatinya, dengan sifatnya yang demokratis dan membawa perubahan menuju ke jalan Allah yang menyelamatkan kehidupan umat manusia di dunia dan akhirat, maka dakwah itu memang harus mencerahkan.

Sebaliknya, bukanlah dakwah kalau tidak menyinari atau tidakmencerahkan kehidupan, baik kehidupan para pemeluknya maupun umat manusia keseluruhannya. Dakwah secara konseptual merupakan usaha mengajak pada Islam secara demokratis, bukan monolitik dan paksaaan.

Tak ada sebuah istilah yang paling demokratis dalam mozaik ajaran Islam kecuali kata dakwah. Dakwah berasal dari akar kata "da'a-yad'u-da'wata", artinya "memanggil", "menyeru", dan "menjamu". Yakni memanggil, menyeru, dan menjamu orang agar mau berada di jalan Allah menuju keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Artinya, dakwah dalam pandangan dan praksis apapun meniscayakan pendekatan, strategi, dan cara yang berproses secara terbuka dan timbal-balik, bukan yang tertutup dan monolitik. Dakwah itu harus cerdas-bijaksana (bil-hikmah), edukatif yang baik (wal al-mauidhat al-hasanah), dan dialogis yang unggul (wa jadil-hum bi-Iatiy hiya ahsan) sebagaimana dititahkan Allah (Qs. AI-Nahl: 125).

Adapun secara defenitif, dakwah menurut Muhammadiyah ialah "panggilan atau seruan bagi umat manusia menuju jalan Allah (Qs. Yusuf: 108) yaitu jalan menuju Islam (Qs. Ali Imran:19)". Dakwah sebagai "upaya tiap Muslim untuk merealisasikan (aktualisasi) fungsi kerisalahan dan fungsi kerahmatan". Fungsi kerisalahan dari dakwah ialah "meneruskan tugas Rasulullah (Qs. AI-Maidah: 67) menyampaikan dinul-Islam kepada seluruh umat manusia (Qs. Ali Imran: 104, 110, 114)". Sedangkan fungsi kerahmatan berarti "upaya menjadikan (mengejawantahkan,mengaktualkan, mengoperasionalkan) Islam sebagai rahmat (penyejahtera, pembahagia, pemecah persoalan) bagi seluruh manusia (Qs. AI-Anbiya: 107)".

Karenanya, setiap usaha dakwah Islam oleh siapa, kapan, dan di mana pun haruslah membawa pencerahan dari keadaan "al-dlulumat" atau sistem yang gelap-gulita kepada kondisi yang serba "al-nur" atau penuh cahaya yang terang di segala lapangan kehidupan. Dalam bidang sosial-politik, sosial-ekonomi, sosial-budaya, dan aspek-aspek lainnya melalui dakwah harus terbangun kehidupan umat manusia setahap demi seta hap menuju pada kondisi yang cerah dan mencerahkan. Di sinilah jiwa, pikiran, dan langkah dakwah pencerahan menuju Indonesia bekemajuan. Melaui dakwah haruslah terjadi bahwa Islam benar -benar menjadi rahmatan 1iI-'alamin di Indonesia khususnya dan dunia pada umumnya.

Kepada umat Islam sendiri usaha-usaha dakwah itu harus mencerahkan. Jika umat Islam sebagai mayoritas masih jauh dari ajarannya, tertinggal di banyak bidang kehidupan, besar kuantitas tetapi minim kualitas, merasa asing di rumahnya sendiri, sulit bersatu dan masih saling bermusuh-musuhan, serta kalah dalam banyak hal dari umal atau bangsa lainnya maka berarti. usaha-usaha dakwah Islam belum bersifat mencerahkan. Apalagi manakala atasnama dakwah terjadi pemunduran kehidupan umat, maka dakwah seperti itu secara tidak disadari bersifat penggelapan, yang tentu saja bertentangan dengan jiwa dan prinsip dakwah sendiri.

Gerakan Pencarahan
Dakwah pencerahan atau dakwah yang mencerahkan dalam perspeklif Muhammadiyah melahirkan gerakan pencerahan. Gerakan pencerahan ini bagi Muhammadiyah sesungguhnya bukan akan, tetapi telah dimulai sejak Kiai Haji Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah seabad yang silam. Kehadiran Muhammadiyah melalui gerakan tajdid atau pembaruannya tidak lain sebagai wujud dakwah dan gerakan pencerahan. Gerakan mengembalikan umat pada sumber ajaran AI-Quran dan Sunnah Nabi yang murni dengan mengembangkan ijtihad di banyak bidang kehidupan merupakan aktualisasi dari dakwah pencerahan.Demikian pula dalam hal pelurusan arah kiblat, pembaruan sistem pendidikan, pemberdayaan masyarakat dhu'afa­mustadl'afin melalui AI-Ma'un, mendirikan gerakan perempuan Islam berkemajuan yakni Aisyiyah, serta berbagai dakwah bi Iisan dan bil-hal yang bersifat maju lainnya sungguh merupakan wujud nyata dari gerakan Muhammadiyah dalam menghadirkan dakwah pencerahan. Muhammadiyah bahkan terlibat aklif dalam pergerakan perjuangan kemerdekaan dan pada langgal17 Aguslus 945 terlibat aktif dalam meletakkan fondasi berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Muhammadiyah bukan hanya berkeringat deras, telapi bahkan menjadi pendiri Republik ini.

Karenanya kini para anggota, mubalig, aktivis, dan pimpinan Muhammadiyah di mana pun termasuk yang berada di, Organisasi Otonom, Majelis, Lembaga, Amal Usaha, dan seluruh lingkungan Persyarikatan harus secara masif menggerakkan kembali jiwa, pikiran, dan langkah-Iangkah dakwah pencerahan ke dalam gerakan pencerahan saat ini di negeri tercinta ini. Gerakan pencerahan sebagai aktualisasi dakwah pencerahan dalam Muhammadiyah digelorakan kembali pada Muktamar ke­ 46 tahun 2010 di Yogyakarta sebagaimana terkandung dalam "Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Abad Kedua". Dinyatakan, bahwa Muhammadiyah pada abad kedua berkomilmen kuat untuk melakukan gerakan pencerahan.Gerakan pencerahan (tanwir) merupakan praksis Islam yang berkemajuan untuk membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan. Gerakan pencerahan dihadirkan untuk memberikan jawaban atas problem-problem kemanusiaan berupa kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan, dan persoalan-persoalan lainnya yang bercorak struktural dan kullural. Gerakan pencerahan menampilkan Islam untuk menjawab masalah kekeringan ruhani, krisis moral, kekerasan, terorisme, konflik, korupsi, kerusakan ekologis, dan bentuk-bentuk kejahatan kemanusiaan. Gerakan pencerahan berkomitmen untuk mengembangkan relasi social yang berkeadilan tanpa diskriminasi, memuliakan martabat manusia laki-Iaki dan perempuan, menjunjung tinggi toleransi dan kemajemukan, dan membangun pranata sosial yang utama.

Dengan gerakan pencerahan Muhammadiyah terus bergerak dalam mengemban misi dakwah dan tajdid untuk menghadirkan Islam sebagai ajaran yang mengembangkan sikap tengahan (wasithiyah), membangun perdamaian, menghargai kemajemukan, menghormati harkat martabat kemanusiaan laki-Iaki maupun perempuan, mencerdaskan kehidupan bangsa, menjunjung tinggi akhlak mulia, dan memajukan kehidupan umat manusia. Komitmen Muhammadiyah tersebut menunjukkan karakter gerakan Islam yang dinamis dan progresif dalam menjawab tantangan zaman, tanpa harus kehilangan identitas dan rujukan Islam yang autentik.
Muhammadiyah dalam melakukan gerakan pencerahan berikhtiar mengembangkan strategi dari revitalisasi (penguatan kembali) ke transformasi (perubahan dinamis) untuk melahirkan amal usaha dan aksi-aksi sosial kemasyarakatan yang memihak kaum dhu'afa dan mustadh'afin serta memperkuat civil society (masyarakat madani) bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa.

Dalam pengembangan pemikiran Muhammadiyah berpijak pada koridor tajdid yang bersifat purifikasi dan dinamisasi, serta mengembangkan orientasi praksis untuk pemecahan masalah kehidupan. Muhammadiyah mengembangkan pendidikan sebagai strategi dan ruang kebudayaan bagi pengembangan potensi dan akal-budi manusia secara utuh. Sementara pembinaan keagamaan semakin dikembangkan pada pengayaan nilai-nilai akidah, ibadah, akhlak, dan mu'amalat-duniawiyah yang membangun keshalihan individu dan sosial yang melahirkan tatanan sosial baru yang lebih religius dan humanistik.

Dalam gerakan pencerahan, Muhammadiyah memaknai dan mengaktualisasikan jihad sebagai ikhtiar mengerahkan segala kemampuan (badlul-juhdi) untuk mewujudkan kehidupan seluruh umat manusia yang maju, adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat. Jihad dalam pandangan Muhammadiyah bukanlah perjuangan dengan kekerasan, konflik, dan permusuhan. Umat Islam dalam berhadapan dengan berbagai permasalahan dan tantangan kehidupan yang kompleks dituntut untuk melakukan perubahan strategi dari perjuangan melawan sesuatu (ai-jihad Ii-al-muaradhah) kepada perjuangan menghadapi sesuatu (ai-jihad Ii-al-muwajahah) dalam wujud memberikan jawaban-jawaban alternatif yang terbaik untuk mewujudkan kehidupan yang lebih utama.

Adapun dalam kehidupan kebangsaan Muhammadiyah mengagendakan revitalisasi visi dan karakter bangsa, serta semakin mendorong gerakan mencerdaskan kehidupan bangsa yang lebih luas sebagaimana cita-cita kemerdekaan. Dalam menghadapi berbagai persaingan peradaban yang tinggi dengan bangsa-bangsa lain dan demi masa depan Indonesia yang lebih maju maka diperlukan transformasi mentalitas bangsa kearah pembentukan manusia Indonesia yang berkarakter kuat. Manusia yang berkarakter kuat dicirikan oleh kapasitas mental yang membedakan dari orang lain seperti keterpercayaan, ketulusan, kejujuran, keberanian, ketegasan, ketegaran, kuat dalam memegang prinsip, dan sifat-sifat khusus lainnya yang melekat dalam dirinya. Sementara nilai-nilai kebangsaan lainnya yang harus terus dikembangkan adalah nilai-nilai spiritualitas, solidaritas, kedisiplinan, kemandirian, kemajuan, dan keunggulan.

Itulah gerakan pencerahan untuk menyinari Indonesia..

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Rilis Berita Islam - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger