Latest Post

Showing posts with label cahaya islam. Show all posts
Showing posts with label cahaya islam. Show all posts

Sejarah Masuknya Islam dan Peran Dakwah Muhammadiyah di Alor NTT

Written By Jurnalis on Thursday, June 5, 2014 | 4:00 AM

Kabupaten Alor sebagai salah satu dari 16 Kabupaten/Kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah wilayah kepulauan dengan 15 pulau yaitu 9 pulau yang telah dihuni dan 6 pulau lainnya belum atau tidak berpenghuni. Luas wilayah daratan 2.864,64 km², luas wilayah perairan 10.773,62 km² dan panjang garis pantai 287,1 km. Secara geografis daerah ini terletak di bagian utara dan paling timur dari wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur pada 8º6’LS – 8º36’ LS dan 123º48’ BT – 125º48’ BT. Batas alam Kabupaten Alor di sebelah utara dengan Laut Flores, sebelah selatan dengan Selat Ombay, sebelah timur dengan Selat Wetar dan perairan Republik Demokratik Timor Leste dan sebelah barat dengan Selat Alor (Kabupaten Lembata).
 
Pulau Alor merupakan bagian dari Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sekitar 260 km dari Kupang (Ibu Kota Provinsi NTT), 360 km dari Ende (Flores), dan 1600 km sebelah Timur Ibu Kota Jakarta. Lokasi ini bisa dicapai dengan menggunakan kapal boat dari Kupang selama sekitar 8 jam atau 55 menit dengan menggunakan pesawat udara melalui Bandara Mali.

Secara geografis kondisi daerah Alor merupakan daerah dengan pegunungan yang tinggi, dibatasi oleh lembah juga jurang yang cukup dalam dan sekitar 60 persen wilayahnya mempunyai tingkat kemiringan di atas 40 persen. Iklim yang tidak menentu merupakan hambatan atau masalah yang klasik di Alor. Selain itu curah hujan yang juga tidak menentu dan merata dimana musim penghujan relatif lebih pendek daripada musim kemarau. Keadaan geografis yang berbukit dan wilayah yang terjal merupakan tantangan tersendiri bagi para dai.

Sejarah Masuknya Islam
Badruzzaman, peneliti pada Balai Litbang Agama Makassar, menuliskan bahwa agama risalah yang paling pertama masuk di Kabupaten Alor adalah Agama Islam. Agama yang diperkirakan masuk pada abad 16 Masehi (ada pula sumber yang menyatakan abad 14 Masehi) bersamaan dengan jayanya Kerajaan Islam di Ternate, Maluku yaitu masa kesultanan Sultan Ternate yang bernama Babullah. Islam masuk ke Alor dengan dibawa oleh seseorang bernama Iang Gogo bersama-sama dengan lima orang saudaranya (demikian dituturkan Bapak Saleh Pango Gogo, keturunan ke 13 Iang Gogo).

Dalam perjalanan, mereka berkesempatan singgah di salah satu daerah kecil yang sekarang disebut Desa Aimoli, tempat berdiamnya Raja Baololong I. Mereka membangun persaudaraan dengan Raja Baololong.

Bentuk jalinan persaudaraan tersebut, sebelum mereka melanjutkan perjalanan, adalah kelima bersaudara mengadakan tukar menukar kenang-kenangan dengan Raja Baololong I. Kenang-kenangan persaudaraaan berupa Moko (Nekara perunggu peninggalan Kebudayaan Dongson, Vietnam) yang diserahkan oleh Iang Gogo dan saudaranya sedangkan Raja Baololong membalas persahabatannya dengan menyerahkan Pisau.

Dari perjalanan ke Pulau Pantar khususnya ke Balagar kelima bersaudara meneruskan perjalanan ke Tuabang. Di Tuabang inilah mereka bersepakat untuk berpisah dengan masing-masing membawa sebuah Alquran (terbuat dari kulit kayu) dan pisau khitan, sebagai bekal menyiarkan Agama Islam. Ilyas Gogo menetap di Tuabang, Iang Gogo ke Alor Besar (tempat dimana Alquran Kulit Kayu disimpan dan dipelihara dengan baik hingga saat ini), Djou Gogo ke Baranusa, Boi Gogo ke Pulau Adonara (Lamahala) Flores Timur dan Kimalis Gogo ke Kui (Lerambaing) Kecamatan Alor Barat Daya. Di tempat masing-masing itulah kelima bersaudara melakukan tugas mulia yaitu menyiarkan Agama Islam kepada pada penduduk yang saat itu masih menganut kepercayaan lokal.

Dari awal kedatangan Iang Gogo di Alor Besar, Agama Islam mulai tersebar di Kabupaten Alor. Iang Gogo menyampaikan Alquran Kulit Kayu kepada Raja Baololong II, sekaligus melakukan aktifitas keagamaan sebagai Guru Agama Islam kepada penduduk dengan mengajarkan tata cara mengaji, shalat lima waktu, puasa zakat, berakhlak mulia dan lain-lain sekaligus sebagai juru khitan.

Generasi Baru Dakwah Islam
Saat ini, lembaga sosial keagamaan Islam dan lembaga pendidikan Islam sudah mulai tumbuh di Kabupaten Alor. Dalam rentang waktu yang sangat panjang, saat ini juga telah banyak pemuda muslim dari Alor yang menimba ilmu Islam di Pulau Jawa. Baik dalam pesantren maupun sekolah dan universitas. Sarjana dan lulusan pesantren itu telah banyak pula yang kembali ke Alor dan berkiprah dalam mengembangkan Alor dan dakwah Islam.

Abdullah Rahman Shaleh, dai muda (36 tahun) yang kelahiran Marica (Desa Kayang), misalnya dapat dikatakan sebagai penerus tongkat estafet dakwah Islam di Alor. Sudah sekitar dua tahun secara rutin ia menyambangi pulau-pulau di Kabupaten Alor untuk berdakwah. Pada tahun 2007, Rahman direkomendasikan sebagai Dai Muhammadiyah dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Alor NTT. Ia diusulkan menjadi Dai Muhammadiyah di Kecamatan Teluk Mutiara dan Kecamatan Alor Barat Laut.

Pertimbangan dari PDM Kabupaten Alor terhadap kebutuhan Dai pada waktu itu adalah posisi kehidupan beragama di Kabupaten Alor-NTT di mana umat Islam merupakan kelompok minoritas dan rawan kristenisasi, sehingga perlu mendapatkan perhatian. Dai yang khusus membina umat di wilayah Kecamatan dan Pedesaan pun belum ada pada saat itu.

Melihat pertimbangan itu, MTDK PP Muhammadiyah mengangkat lulusan Program Studi Sastra Arab Universitas Gajah Mada (UGM) ini sebagai dai khusus untuk Program Dakwah Terpencil wilayah Kabupaten Alor-NTT pada tahun 2008. Sebagai dai khusus, hari-hari Rahman diisi dengan dakwah di berbagai tempat. Terutama di daerah terdekatnya dengan pembinaan kepada anak-anak di lingkungan terdekat. Kegiatan pembinaan bagi anak-anak dilakukan dengan mengadakan pengajian dan mengajar Al Quran. Selain itu, memakmurkan masjid dengan melakukan pembinaan jamaah dan generasi muda.

Setiap pekan da’i khusus ini juga mengunjungi desa-desa untuk berkhutbah. Tidak hanya sekali, tetapi kadang lebih dari itu ketika ada undangan untuk mengisi materi di suatu tempat dengan jarak yang jauh. Tidak jarang ia harus naik-turun bukit melintasi jalan yang rusak dan juga menyeberang laut ke pulau-pulau lainnya di Kabupaten Alor. Kegiatan pekanan yang dilakukan kebanyakan adalah khutbah Jumat dan ceramah-ceramah di berbagai majelis ta’lim. Di sela-sela kesibukannya sebagai dai ia juga menjadi Dosen Luar Biasa Universitas Muhammadiyah Kupang, Kampus II Kalabahi pada 2008.

Kondisi alam di Alor membuat beberapa daerah menjadi sulit dijangkau. Selain sarana jalan masih kurang baik, juga disebabkan transportasi laut yang membutuhkan biaya tinggi. Kondisi alam seperti itu tentu menjadi tantangan tersendiri di dalam penyampaian dakwah Islam dan pengembangan umat. Apalagi dana untuk dakwah terpencil yang dianggarkan dapat dikatakan sangat tidak memadai dengan memperhatikan kondisi Alor yang seperti itu. Kendati demikian, upaya para dai dalam membingkai pulau-pulau di Alor dengan dakwah Islam tidak tersurutkan. Bahkan memperlihatkan geliat dakwah yang lebih baik.

Di samping Rahman, ada pula Gunawan Bala. Pemuda kelahiran Pulau Kangge, 12 April 1977 ini sejak tahun 2004 telah memulai aktivitas dakwah bersama teman-temannya yang rata-rata adalah lulusan pesantren maupun universitas di Pulau Jawa. Dakwah yang dilakukan pertama kali secara non formal dan bersifat umum. Berbekal pengalaman dari pendidikan pesantren di Jawa Barat, kegiatan dakwah yang pertama kali dilakukan Gunawan bersama teman-temannya itu dibungkus dengan rangkaian program Safari Ramadhan di Kabupaten Alor.

Dai tamatan pesantren Persis yang juga sempat direkomendasikan PDM Kabupaten Alor sebagai Dai Muhammadiyah di Kecamatan Pantar, Pantar Timur dan Kecamatan Pulau Pura ini sering bersama ormas-ormas Islam yang ada melaksanakan berbagai pembinaan-pembinaan di masjid-masjid, yaitu pembinaan Khatib, Imam, Azan, dan Pengurus Mesjid sebagai inti dari penyelenggara masjid. Kegiatan itulah yang menjadi fokus utama dakwah saat itu.

Selanjutnya, ormas-ormas Islam seperti Muhammadiyah, Persatuan Islam, dan lembaga-lembaga dakwah lokal misalnya eLDaTa (Lembaga Dakwah dan Ta’lim) dimana perintisnya adalah Alumni dari pesantren di Jawa telah membina beberapa masjid di beberapa kecamatan di Kabupaten Alor. Ia mengatakan bahwa sampai hari ini dakwah yang dilakukan oleh para dai sudah hampir merata di seluruh pelosok Alor. Baik yang bergerak secara kelembagaan melalui lembaga-lembaga pendidikan sebagai guru ataupun dengan ormas-ormas Islam bersama dalam melaksanakan program-program dakwah rutin semacam Ta’lim pekanan bekerjasama dengan majelis ta’lim setempat. Baik majelis ta’lim Aisyiyah, Persistri, ataupun ibu-ibu Dharma Wanita yang berasal dari istri-istri pegawai negeri sipil.

Selain ormas-ormas Islam yang menyemarakkan dakwah, di Alor ada pula kelompok-kelompok suku seperti pemuda Sulawesi Selatan dan keluarga besar dari himpunan Jawa, yang merantau dan punya Majelis Ta’lim sendiri di Alor. Kelompok itu menjalankan pengajian tersendiri akan tetapi dai-dai baik dari Muhammadiyah maupun Persis dan eL DaTa yang mengisi kajian-kajian di sana. Jadi, artinya dakwah sekarang walaupun berjalan baru beberapa tahun sudah sampai ke pelosok-pelosok desa yang sangat jauh dari jangkauan sebelumnya dan juga dari beragam latar belakang. Selain itu, berkat dakwah dari generasi awal Islam seperti Iang Gogo di Alor dan pantang surutnya dai-dai muda saat ini hampir semua pulau telah terdapat kelompok muslim.

Kendati muslim hanya sekitar 27 % dari jumlah penduduk yang ada, Gunawan Bala mengungkapkan bahwa tidak ada tekanan yang berlebihan dari kelompok agama lainnya. Bahkan, secara politik perwakilan dari Partai Islam yang ada dapat menduduki lebih dari lima kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah di Alor. Yang menarik perhatian adalah banyak orang Islam yang kuliah di Universitas Katolik Widya Mandira (Unika) Kupang dan Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Sebaliknya, 70 persen non muslim menjadi mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Kupang (UMK).

Mengenai upaya pengembangan umat, Rahman mengungkapkan bahwa potensi yang dapat dikembangkan adalah budidaya rumput laut yang mulai berkembang di masyarakat pesisir. Di samping itu, pada masyarakat di dataran tinggi cengkeh merupakan salah satu komoditi terbaik yang dapat dikembangkan. Untuk kondisi alam seperti Alor, Gunawan Bala mengusulkan agar dai bersama lembaga Islam lainnya juga dapat mengembangkan transportasi laut sehingga dapat memajukan ekonomi umat dan mempermudah gerak dakwah para dai dari pulau ke pulau. [sp/senyumislam]

Kakek 91 Tahun Ini Biasa Sedekah 70 Nasi Bungkus Setiap Hari Jum'at

Written By Jurnalis on Thursday, May 22, 2014 | 4:43 PM



Seorang pengguna media sosial Facebook bernama Fajar Ali Imron Rosyidi menuliskan sebuah status inspirasi yang terjadi di lingkungan tempat tinggalnya, Fajar menuliskan tentang sosok seorang kakek yang di usia senjanya hidup dengan sangat bersahaja dan sederhana. Kakek yang dikenal dengan nama Mbah Asrori ini membiasakan sedekah nasi bungkus setiap hari Jum'at.


Berikut tulisan lengkapnya:

"Mbah Asrori tetanggaku yg energik, usia 91 thn masih sehat dan kuat bersepeda kemana-mana tiap hari, seperti biasa setiap hari jum'at beliau selalu membagikan nasi bungkus beruapa nasi kuning komplit dengan lauk pauk yg lezat kepada tukang becak, pemulung, atau siapapun yg membutuhkan makan hari jum'at itu minimal 70 bungkus.

Setiap bulan beliau menyisihkan minimal 400 ribu rupiah untuk sedekah setiap jum'at itu walaupun saya tau penghasilan beliau tidak menentu. Dan tidak lupa kemana-mana beliau selalu bawa radio kecil dengan selalu setel channel radio masjid agung Semarang. Benar sabda Rasulullah barangsiapa senang bersedekah dan silaturahim maka Allah akan panjangkan umurnya dgn barokah rejeki tiada disangka-sangka.

Alhamdulillah 5 tahun lalu beliau telah melaksanakan haji, yg secara logika dgn penghasilannya tidak akan mampu menabung biaya haji, namun Allah mampukan beliau.. SubhanaAllah"
[forum.viva.co.id]

Mengenal Lebih Dekat Masjid Pertama yang Dibangun Rasulullah SAW

Written By Jurnalis on Friday, May 16, 2014 | 4:00 AM


Rasulullah SAW meletakkan batu pertama Masjid Quba tepat di kiblatnya. Semua masjid yang berada di Makkah, Madinah, dan Palestina selalu istimewa bagi umat Islam. Masjid-masjid ini punya nilai yang lekat dengan sejarah peradaban Islam. Begitupun dengan masjid Quba.

Menilik dari sejarahnya, Masjid Quba punya nilai historis yang sangat tinggi. Masjid ini adalah masjid pertama yang dibangun Rasulullah SAW.

Masjid Quba dibangun pada awal peradaban Islam. Tepatnya, 8 Rabiul Awal pada 1 Hijriyah. Lokasinya berada di sebelah tenggara Kota Madinah, lima kilometer di luarnya.

Dulu, masjid ini dibangun dengan bahan yang sangat sederhana. Seiring berjalannya waktu, renovasi banyak dilakukan Kerajaan Arab Saudi.

Masjid ini juga mengalami perluasan. Dalam buku berjudul Sejarah Madinah Munawwarah yang ditulis Dr Muhammad Ilyas Abdul Ghani, dijelaskan masjid ini direnovasi besar-besaran pada 1986.

Kala itu, Pemerintah Arab Saudi bahkan mengeluarkan dana hingga 90 juta riyal Saudi untuk memperluas masjid ini yang nantinya bisa menampung 20 ribu jamaah yang mengunjunginya.

Dalam sejarah yang dituliskan, tokoh Islam yang memegang peranan penting dalam pembangunan masjid ini adalah Sayyidina ‘Ammar Radhiyallahu lanhu.

Ketika Rasulullah SAW berhijrah dari Makkah ke Madinah, pria ini mengusulkan untuk membangun tempat berteduh bagi sang Nabi di kampung Quba yang tadinya hanya terdiri atas hamparan kebun kurma.

Kemudian, dikumpulkanlah batu-batu dan disusun menjadi masjid yang sangat sederhana. Meskipun tak seberapa besar, paling tidak bangunan ini bisa menjadi tempat berteduh bagi rombongan Rasulullah. Mereka pun bisa beristirahat kala siang hari dan mendirikan shalat dengan tenang.

Rasulullah SAW meletakkan batu pertama tepat di kiblatnya dan ikut menyusun batu-batu selanjutnya hingga bisa menjadi pondasi dan dinding masjid.

Rasullullah SAW dibantu para sahabat dan kaum Muslim yang lain. Ammar menjadi pengikut Rasulullah yang paling rajin dalam membangun masjid ini. Tanpa kenal lelah, ia membawa batu-batu yang ukurannya sangat besar, hingga orang lain tak sanggup mengangkatnya.

Ammar mengikatkan batu itu ke perutnya sendiri dan membawanya untuk dijadikan bahan bangunan penyusun masjid ini. Ammar memang selalu dikisahkan sebagai prajurit yang sangat perkasa bagi pasukan Islam. Dia mati syahid pada usia 92 tahun.

Pada awal pembangunannya yang dibangun dengan tangan Rasulullah sendiri masjid ini berdiri di atas kebun kurma. Luas kebun kurmanya kala itu 5.000 meter persegi dan masjidnya baru sekitar 1.200 meter persegi. Rasulullah sendiri pula yang mengonsep desain dan model masjidnya.

Meskipun sangat sederhana, Masjid Quba boleh dianggap sebagai contoh bentuk masjid-masjid selanjutnya. Bangunan yang sangat sederhana kala itu sudah memenuhi syarat-syarat yang perlu untuk pendirian masjid.

Masjid ini telah memiliki sebuah ruang persegi empat dan berdinding di sekelilingnya. Di sebelah utara dibuat serambi untuk tempat sembahyang. Dulu, ruangan ini bertiangkan pohon kurma, beratap datar dari pelepah, dan daun korma yang dicampur dengan tanah liat. Di tengah-tengah ruang terbuka dalam masjid yang kemudian biasa disebut sahn terdapat sebuah sumur tempat wudhu.

Di sini, jamaah bisa mengambil air untuk membersihkan diri. Dalam masjid ini, kebersihan selalu terjaga, cahaya matahari dan udara pun dapat masuk dengan leluasa.[sp/www.jurnalhaji.com]

Lima Alasan Mualaf Tertarik Pada Islam

Written By Jurnalis on Sunday, May 11, 2014 | 10:00 PM


Populasi Muslim di seluruh dunia meningkat pesat. Di Eropa, sejumlah lembaga survei mencatat ada kenaikan meski tidak lantas membuat populasi Muslim menjadi mayoritas.
Pertanyaan menarik yang muncul, apa yang menyebabkan masyarakat dunia mulai tertarik memeluk Islam. Pertanyaan ini yang kemudian menjadi bahan survei yang dilakukan Shannon Abulnasr, dalam makesurvey.net.

Dari data yang diperoleh, persentase tertinggi, yakni 30 persen (21 orang) menyatakan hal pertama yang membuat mereka tertarik tentang Islam adalah ketika mereka bertemu dan berbicara dengan Muslim. Dari pertemuan ini, sebanyak 24.3 persen (17 orang) mengaku semakin tertarik mengetahui ajaran Islam.

Dari salah seorang responden, kata Shannon, diketahui ia sempat bertemu dengan seorang Muslim yang diajaknya berhubungan suami-istri. Pria itu menolak dengan menyatakan dirinya seorang Muslim. Responden ini kemudian bertanya, apa dan mengapa seorang Muslim menolak berhubungan suami-istri, hal yang sangat biasa di dunia Barat.

Selanjutnya, sekitar 24 persen (10 orang) responden mengaku tertarik pada Islam ketika melihat seorang Muslim melaksanakan shalat, ibadah haji, dan masjid.
"Salah seorang responden bahkan terkejut ketika dirinya tengah minum kopi dengan seorang Muslim, ketika waktu azan tiba, ia meminta izin kepada responden untuk melaksanakan shalat," kata Shannon, seperti dilansir onislam.net, Ahad (11/4).

Alasan lain, sekitar 17.1 persen (12 orang) responden mengaku tertarik pada Islam ketika membaca Alquran dan literatur terntang Islam. Ini terjadi, ketika mereka mendengar dan membaca pemberitaan negatif tentang Islam dan Muslim.

Alasan terakhir, yakni 27.1 persen (19 orang) responden menyatakan ajaran keesaan Tuhan merupakan solusi dan jawaban atas kebingungan dengan konsep Ketuhanan yang dipaparkan dalam ajaran agama terdahulu, "Monoteisme murni adalah konsep paling logis yang memudahkan kalangan non-Muslim memahami ajaran Islam," kata dia.

Secara umum, kata Shannon, apa yang dipaparkan para responden menunjukkan kalangan non-Muslim sangat memperhatikan perilaku Muslim. Ini merupakan dakwah secara tidak langsung yang menarik perhatian mereka. "Saya kira ketika Allah memberikan hidayah, itu dimulai dengan bagaimana seorang Muslim berperilaku. Jadi, seorang yang akan menjadi Muslim karena perilaku dan tindakan umat Islam sendiri," kata dia. [sp/rol]

Waspadalah Aliran Sesat Berkedok Ormas

Written By Jurnalis on Saturday, May 3, 2014 | 10:00 PM

Oleh: KH Athian Ali Dai

Berbagai aliran atau kelompok sesat yang memakai atribut dan nama-nama Islam, sesungguhnya memiliki potensi lebih besar dalam mendangkalkan akidah umat Muslim. Bila berkaca dari pengalaman sejarah di negeri ini, maka hal tersebut memang benar adanya.

Pada dekade 1960-an, masyarakat kita pernah dihebohkan dengan kemunculan kelompok yang menamakan dirinya ‘Islam Murni’ alias ‘Islam Jamaah’. Dari namanya saja sudah terdengar begitu indah.

Padahal, kelompok ini memiliki paham yang justru menyimpang dari ajaran Islam. Salah satunya, mengafirkan orang-orang Muslim yang berada di luar mereka, sekalipun itu adalah keluarga sendiri. Dalam ilmu akidah, paham ini dikenal dengan istilah ‘takfir’.

Tak hanya itu, mereka juga menganggap umat Muslim yang bukan segolongan dengan mereka sebagai najis. Jika ada orang luar melakukan shalat di masjid milik Islam Jamaah, maka bekas tempat shalatnya akan dicuci karena dianggap sudah tidak suci lagi.

Selain itu, kelompok ini juga mengharamkan anggotanya belajar agama Islam, Alquran, dan Hadis selain kepada imam atau amir mereka.

Pada masa Orde Baru, Islam Jamaah dibubarkan pemerintah karena dinilai sudah menimbulkan keresahan di kalangan umat. Namun, sisa-sisa kelompok ini belakangan ternyata ‘bereinkarnasi’ lagi dengan nama baru.

Beberapa tahun lalu, umat Muslim di Tanah Air  juga disibukkan oleh persoalan Ahmadiyah. Seperti Islam Jamaah, kelompok ini yang juga menggunakan atribut-atribut Islam dalam pergerakannya. Soal kesesatan Ahmadiyah, saya sudah pernah memaparkan kepada pembaca pada tulisan sebelumnya.

Bagi orang awam atau mereka yang baru pertama kali mendengar nama Islam Murni, Islam Jamaah, dan Ahmadiyah, mungkin akan berpikiran bahwa kelompok-kelompok tersebut memang benar-benar Islami. Padahal, pemahaman yang mereka ajarkan justru melenceng jauh dari prinsip-prinsip Islam.

Bahkan untuk Ahmadiyah, para ulama telah sepakat menyatakan mereka bukan bagian dari Islam. Karena itulah, umat perlu mewaspadai keberadaan aliran sesat yang menggunakan atribut Islam dalam setiap pergerakannya.

Bagaimana mengenali kesesatan ajaran yang ditanamkan oleh sebuah kelompok? Majelis Ulama Indonesia (MUI) menetapkan sepuluh kriteria suatu aliran dapat digolongkan tersesat.

Suatu paham atau aliran keagamaan yang memakai atribut Islam dapat dinyatakan sesat bila memenuhi salah satu dari sepuluh kriteria berikut:

- Mengingkari rukun iman dan rukun Islam.
- Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dalil syar'i (Alquran dan as-Sunnah).
- Meyakini turunnya wahyu setelah Alquran.
- Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Alquran.
- Melakukan penafsiran Alquran yang tidak berdasarkan kaidah tafsir.
- Mengingkari kedudukan Hadits Nabi sebagai sumber ajaran Islam.
- Melecehkan dan atau merendahkan para Nabi dan Rasul.
- Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir.
- Mengubah pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah.
- Mengkafirkan kaum Muslim tanpa dalil syar’i.

Tiga Bekal Menuju Surga



1. Beriman kepada Allah ta’aala, untuk saat sekarang, berdasarkan apa yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad shalla Allahu ‘alaihi wa sallam yaitu al-Qur’an dan Sunnah .


2. Beramal shalihat, seperti dalam Surat al-Bayyinah ayat 5.

98:5. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.
98:7. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.

98:8. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.

3. Doa khusus, Sayyidul Istighfar

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي /لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ /خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ /وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ /أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ /أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ /وَأَبُوءُ بِذَنْبِي /فَاغْفِرْ لِي /فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

ALLAAHUMMA ANTA RABBII./ LAA ILAAHA ILLAA ANT./ KHALAQTANII WA ANA 'ABDUK / WA ANA 'ALAA 'AHDIKA WA WA'DIKA MASTATHA'T./ A'UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA'T./ ABUU`U LAKA BINI'MATIKA 'ALAYY,/ WA ABUU`U BIDZANBI./ FAGHFIRLI / FA INNAHU LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANT

Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku,/ tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Engkau./ Engkau menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu./ Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku./ Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku,/ aku mengakui nikmat-Mu kepadaku, dan aku mengakui dosaku kepada-Mu / maka ampunilah aku./ Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau 

Nabi Muhammad shalla Allahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 'Jika ia mengucapkan di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore, maka ia termasuk dari penghuni surga. Dan jika ia membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk dari penghuni surga.' HR Bukhari 5831

Silahkan dengarkan dan resapi Bacaan Sayyidul Istighfar berikut:

http://www.youtube.com/watch?v=IdoNEXIf9kk


Ust.Yusron Asrofie

Urgensi Tazkiyatun Nafs ala Nabi Muhammad Saw.

Written By Jurnalis on Saturday, April 26, 2014 | 4:00 AM


Oleh : M. Nursamad Kamba

Firman Allah: “katakan Muhammad, sesungguhnya aku adalah basyar, manusia biasa yang diwahyui Allah”. QS. AL KAHF: 110; QS. FUSSILAT: 6; Nabi Muhammad saw adalah manusia biasa memang betul, tapi beliau suci dan sucinya sesuai dengan karakteristik manusia. Sucinya bukan seperti malaikat, bahkan tidak seperti nabi-nabi sebelumnya yang pada umumnya dilahirkan dalam keadaan sudah menjadi nabi. Isa as sudah nabi sedang masih bayi. Musa as sudah nabi sejak diletakkan dalam keranjang dan dialirkan oleh ibunya ke sungai. Muhammad menjadi nabi setelah berumur 40 tahun. Mengapa? Agar menjadi tauladan, supaya manusia modern terutama manusia masa kini yang paling mampu membuat dan merekayasa alasan-alasan, misalnya, dengan mengatakan “ah, namanya juga nabi ya pasti sucilah”.

Nabi Muhammad saw dihadapkan kepada berbagai kedaan yang menyulitkan semenjak kecil, bahkan semasih dalam kandungan ayahnya sudah tiada. Semasih kecil ibundanya sudah tiada. Beliau harus berjuang mencari nafkah, membiayai hidupnya karena beliau harus tahu diri dan belajar mandiri. Maka setelah berangkat remaja, beliau sudah mempunyai profesi dan berdagang ikut pamannya ke Syam. Sebuah riwayat menceritakan bahwa semasa usianya menginjak sekitar 10 tahun beberapa bulan, beliau mengalami bedah dada untuk mengeluarkan hasad, irihati, dengki dan curang dari dalam dirinya, selanjutnya menggantinya dengan lemah lembut, kasih sayang dan keterbukaan. Diriwayatkan pula bahwa sebelum isra’ mi’raj rasulullah kembali mengalami bedah dada dengan mengeluarkan sifat-sifat dengki dan segala sifat-sifat yang menjadi penyakit jiwa manusia.

Menurut Ibn Katsier, operasi bedah yang dimaksud dalam QS. Al Insyirah bersifat mental tetapi tidak menafikan pemahaman secara fisik dari uraian hadis. Yang nyata adalah bahwa beliau memiliki kelapangan dada yang membuatnya mampu menanamkan simpati dan kewibawaan dalam pergaulan. Ibn Katsier menafsirkan ayat 1 al insyirah “maknanya Allah mencahayai hatinya dan menjadikannya lapang dada, berpandangan luas, dan akomodatif serta bersifat fleksibel. Apakah Muhammad saw sudah mengetahui dirinya akan menjadi nabi semenjak kecil atau bahkan saat-saat sebelum peristiwa turunnya wahyu pertama di gua hira?

Dari HR. Bukhari tentang awal turunnya wahyu yang menguraikan secara rinci keadaan serta kondisi kejiwaan rasulullah sesaat dan sesudah turunnya wahyu pertama, dapat dipastikan bahwa hingga turunnya wahyu beliau sama sekali tidak menyadari bahwa peristiwa yang dialaminya merupakan prosesi transformasi dirinya dari manusia biasa menjadi nabi dan rasul. Beliau bingung, panik, tegang, resah, gelisah dan sangat tertekan dengan semua itu. Salah satu riwayat mengisahkan “beliau pernah bermaksud menjatuhkan diri dari atas puncak gunung, tetapi urung karena mendengar suara dari langit: Ya Muhammad, engkau adalah nabi..”

Mengapa pertanyaan itu (apakah nabi sudah tau sejak awal bahwa beliau akan menjadi nabi?) penting, karena untuk memastikan bahwa segala langkah yang diambil oleh Muhammad sebelum prosesi transformasi menjadi nabi adalah murni pilihan-pilihan manusiawi. Artinya bisa menjadi pedoman untuk diikuti dan ditauladani. Mulai dari kegiatannya berdagang. Ini bisa menjadi kata kunci bahwa pemuda harus ada pekerjaan. Memang, bekerja bukan untuk mencari rezeki karena rezeki sudah ditanggung oleh Allah. Tapi bekerja merupakan bagian yang terpenting dalam membentuk kepribadian yang integral. Nabi sangat tidak toleran terhadap pemalas. dalam do’anya: “allahumma inni a’uzu bika min al’ajzi wa al kasali..” .. (ya Allah aku berlindung padamu dari lemah dan malas..). Kalau saja umat Islam mengikuti nabi yakni mengikuti sunnah nabi dalam hal perlunya bekerja dan memiliki profesi sejak masih muda pasti umat Islam menjadi unggul sebagaimana yang diharapkan Allah dalam al Qur’an (al Baqarah: 143). Umat Islam unggul bukan karena namanya Islam atau sekedar bergabung kedalam barisan muslim melainkan unggul jika mengikuti nabinya yang profesional sejak masa muda sebagaimana dibuktikan oleh para sahabat. Namun, apa hendak dikata umat yang membanggakan beliau hanya suka memperalat nabinya untuk kebutuhan pribadi masing-masing.

Kita juga bisa mengambil hikmah di sini bahwa berdagang dan menjadi pengusaha adalah profesi yang paling ideal untuk mengukur dan menguji kredibilitas hidup dan integritas kepribadian. Nabi membuktikan bahwa indikator utama keberhasilan dalam berdagang adalah amanah, jujur dan bertanggung jawab, hingga beliau dijuluki al amiin. Orang yang berdagang tapi menjaga kejujuran itu pertanda memiliki integritas pribadi yang tinggi. Makanya Sayyidah Khadijah memilih untuk mempercayakan usahanya kepada Muhammad karena kejujurannya.
Adakah korelasi antara bedah dada nabi dengan sikap dan sifat serta perilaku jujurnya? Jika memahami kisah metaforis pembedahan yang dilakukan oleh malaikat dengan mengeluarkan rasa dengki, hasad, irihati dan curang, selanjutnya mengganti dengan lemah lembut, kasih sayang, dan rasa hormat kepada yang lain, semua itu menunjukkan bahwa untuk memperoleh kelapangan dada dan berpandangan luas serta akomodatif ialah dengan cara membedah dada dan mengeluarkan hasad, dengki, irihati dan curang.

Ini ajaran universal, seseorang tidak akan pernah mampu berlapang dada sepanjang dalam dirinya ada rasa dengki, hasad, iri dan curang. Dengki ialah menaruh perasaan marah (benci, tidak suka) karena iri yg amat sangat kepada keberuntungan orang lain. Irihati adalah merasa kurang senang melihat kelebihan orang lain; kecemburuan melihat kelebihan orang lain.

Sesorang tidak akan pernah mampu memiliki pandangan luas jika tidak memiliki kelapangan dada. Seseorang tidak akan akomodatif dan bersikap fleksibel jika tidak memiliki pandangan yang luas. Walhasil, seseorang tidak akan jujur jika tidak memiliki kelapangan dada, pandangan luas, akomodatif dan sikap fleksibilitas. Sedangkan untuk tujuan itu perlu membebaskan diri dari hasad, dengki, iri dan curang. Maka nabi mengingatkan “iyyakum wa al hasad fa inn al hasada ya’kul al hasanat kama ya’kulu al nar al hathab” (hati-hati dengan hasad karena ia memusnahkan segala kebaikan ibarat api melahap kayu bakar).

Misalkan wahyu tidak turun kepada Muhammad, apakah ajaran membersihkan diri dari dengki tidak baik? Tetaplah baik. Ini yang kita sebut khairun bizatihi. Ini berarti ajaran pertama yang diterapkan oleh seorang Muhammad adalah membebaskan diri dari hasad, dengki, iri, dan curang. Dengan membebaskan jiwa dari hasad, dengki, iri dan curang kemudian muncul lapang dada, pandangan luas, kasih sayang dan respek atau rasa hormat. Hasilnya luar biasa! Karater Al amanah (kejujuran).

Jika meminjam teori antropologi sosial tentang internalisasi, aktualisasi dan eksternalisasi kita dapat memformulasikan suatu paradigma begini: jika ketidak-jujuran merebak dalam masyarakat itu merupakan pertanda bahwa para anggota masyarakat belum terbebas dari rasa dengki, hasad, iri dan curang. Dan berhati-hatilah jika ketidak-jujuran merebak karena hal itu mengancam akan memakan semua kebaikan/keberkahan dalam kehidupan bermasyarakat ibarat api melahap kayu bakar.

Dapat disimpulkan bahwa ajaran yang paling awal dilakukan oleh Rasulullah saw adalah melepaskan diri dari hasad, dengki, iri dan curang selanjutnya mengisi jiwa dengan sifat-sifat lemah lembut, lapang dada, dan akomodatif. Tujuan utama pembersihan jiwa dalam kaitan ini adalah agar mampu menerapkan sikap amanah dalam mengembangkan profesi. Intinya, kalau mau membentuk karakter jujur dengan cara membebaskan diri dari hasad, dengki,  iri dan curang; pada saat yang sama memiliki kelapangan dada, lemah lembut, akomodatif, dan respek kepada yang lain. Ajaran-ajaran murni ini kemudian dilembagakan dalam al Qur’an untuk menjadi pedoman umum bagi umat manusia secara keseluruhan. Peristiwa bedah dada nabi yang merupakan esensi pembersihan diri dari hasad, dengki, iri serta curang pada saat yang sama memiliki sifat-sifat lemah lembut, lapang dada, akomodatif, dan respek seolah-olah menjadi pendahuluan dan pengantar menuju Islam. Sebelum menjadi Islam bersihkan diri dulu dari hasad, dengki, dan iri. Sebelum menjadi Islam miliki dulu sifat-sifat lemah lembut, lapang dada, akomodatif, dan respek. Intinya, untuk menjadi muslim yang baik dan paripurna haruslah memiliki sifat amanah (jujur dan bertanggung jawab). Tanpa melakukan tazkiyatunnafs ini Islam kita akan menjadi hanya sekedar nama dan tidak dapat memperoleh keunggulan-keunggulan yang dijanjikan dalam Kitab Suci al Qur’an baik di dunia maupun di akhirat.

Sifat kelapangan dada nabi saw dipraktekan sepanjang hidupnya dan menjadi modal utama bagi keunggulan perjuangan Islam. Perhatikanlah sirah nabi bahwa walaupun bermacam-macam halangan dan rintangan yang dihadapi, benteng kebencian dan perlawanan demikian kuatnya menghadang, pelbagai kegiatan teror dan siksaan menimpa beliau dan para pengikutnya, sepanjang periode tersebut beliau tidak pernah -walau sekalipun- kehilangan daya kontrol dan kendali diri; baik dalam perkataan maupun perbuatan. Sama sekali tidak pernah kehilangan kesabaran, tidak pula sedikitpun pernah merasa putus asa. Suatu sikap perjuangan yang perlu kita pedomani pada diri Rasulullah Saw. Berbeda dengan sikap sebagian dari yang mengaku umatnya, belum apa-apa sudah menghunuskan pedang.

Selain tazkiyatunnafas dari hasad, nabi juga melakukan suatu hal yang rutin sebelum prosesi kenabiannya. Yakni kebiasaan berkhalwat.Yang menarik dari kegiatan berkhalwat nabi tidak hanya sekedar mengasingkan diri dari keramaian lalu melakukan perenungan dan kontemplasi. Khalwat nabi adalah semacam paket tazkiyah yang terdiri atas kegaiatan-kegiatan perenungan, pertapaan yang terpadu dan dibarengi dengan pelayanan sosial. Kata tazkiyah lebih kaya makna dari pada kata tasfiyah. Tazkiyah mengandung makna sosial, sedangkan tasfiyah lebih kepada penyendirian. Menurut sejarawan Mesir modern, Husain Mu’nis “sebelum Muhammad memasuki tahap-tahap prosesi kenabian, jiwa, hati, dan seluruh perhatiannya sudah tercurahkan dan terpusatkan pada pencarian kebenaran, seperti yang dilakukan oleh kelompok “al-Hanifiyah” yang sadar bahwa penyembahan berhala-berhala adalah pekerjaan sia-sia. Beliau mendambakan agama Nabi Ibrahim as.” Diriwayatkan oleh al Bukhari bahwa prosesi yang mendahului turunnya wahyu pertama adalah al ru’yah al salihah (visi yang layak). Yakni mimpi yang nyata, indah, melapangkan dada, menenangkan dan menyegarkan jiwa. Keadaan seperti itu mulai dialami Rasulullah sejak menginjak umur 39 tahun, sebagai akibat khalwatnya di gua hira atau di tempat-tempat sunyi lainnya.

Mu’nis menulis “semenjak jiwanya sadar dan bergejolak mencari kebenaran, agama Ibrahim as; Muhammad sudah sering melakukan khalwat di hampir setiap gua yang ada pada bukit-bukit yang mengitari kota Mekkah. Sesungguhnya pemandangan-pemandangan indah yang terlihat oleh Muhammad dalam mimpi-mimpi itu adalah semacam pengetahuan emanasi dari kontemplasi spiritual yang membuat beliau penuh lapang dada dan melihat kehidupan amat indah tatkala bangun dari tidurnya. Pengaruh psikologis yang ditimbulkan oleh pengalaman seperti ini adalah kecenderungan untuk meninggalkan aktifitas-aktifitas yang tidak berarti. Namun beliau dalam hal ini tidak memisahkan diri dari keramaian dan pergaulan hidup. Hal itu adalah suatu persiapan untuk memasuki tahap kenabian. Kata-kata yang digunakan untuk mengekspresikan pengalaman tersebut, yakni falaq al-shubh (fajar menyingsing) dapat memberikan gambaran tentang perihalnya. Seseorang diantara kita yang pada malam hari tidur nyenyak dan pulas, lalu bangun di pagi hari dan melayangkan pandangan ke taman bunga maka ia akan merasa dirinya diliputi cahaya sejuk ibarat sejuknya cahaya fajar menyingsing. Al-falaq sendiri adalah terminologi al-Qur’an seperti dalam QS: 113 al-Falaq: 1. Allah berfirman : “Katakanlah (Muhammad) aku berlindung kepada Allah Tuhan al-Falaq”. Menurut para pakar tafsir, falaq berarti Allah membelah kehampaan yang gelap dengan cahaya keimanan. Dan cahaya seperti itulah yang dirasakan oleh Muhammad meliputi dirinya setiap kali sadar dari mimpi-mimpi yang shalihah itu. Tidak mesti mimpi-mimpi yang emanatif ibarat cahaya fajar tersebut terjadi ketika Muhammad sedang tidur di malam hari, tetapi bisa saja terjadi di siang hari setiap kali Muhammad lengah atau mengalami kontemplasi spiritual lalu terlihat olehnya pemandangan-pemandangan indah yang melapangkan dada dan menyejukkan jiwanya..” Walaupun rajin berkhalwat Muhammad tetap menjalankan kegiatan bisnisnya. Dan dalam berkhalwat nabi melakukan tahannuts.

Kata al-tahannuts adalah istilah baru yang menurut sebagian penafsiran penulis Sirah berarti “beribadah sepanjang malam”. Sedangkan menurut penafsiran yang lain berarti “kegiatan berderma” dalam rangka pembersihan jiwa. Sehubungan dengan ini al-Thabari meriwayatkan pendapat Ibnu Humeid yang mengatakan bahwa “Setiap tahun Rasulullah SAW berderma memberi makan setiap fakir miskin selama satu bulan”. Kegiatan yang sudah menjadi tradisi mereka yang termasuk golongan al-hanifiyah, pencari kebenaran.

Apa saja yang dilakukan oleh nabi jika berada di dalam pertapaannya? Salah-satu hadis nabi mengajarkan: “uzkuru hazima al lazzat” (ingatlah selalu penghancur kelezatan). Maksudnya, ingatlah selalu kematian, karena hal itu akan membuatmu tidak betah dalam kelezatan duniawi. Menurut Nabi, mengingat kematian adalah bagian utama dalam tazkiyatunnafs karena hubbuddunya ra’su kulli khati’atin (mencintai dunia adalah pangkal segala kejahatan). Tapi di sini harus pandai-pandai membedakan antara mencintai dunia dengan mengelola dunia. “Hubbuka li shshay’i yu’mi wa yu simm”, cintamu kepada sesuatu membuatmu buta dan tuli. Mengelola bukan mencintai. Mengelola dunia adalah salah-satu tugas kekhalifahan yang diwajibkan, tetapi bukan untuk mencintainya melainkan untuk menyebarkan kebaikan di muka bumi. Menjadi sumber dan media tersebarnya kebaikan di bumi merupakan indikator pencapaian spiritual yang tinggi. Artinya, pertanda bahwa seseorang telah berhasil melakukan tazkiyatunnafs.

Apakah di dunia kita sekarang ini perlu khalwat dan tahannuts? Kegiatan khalwat nabi sudah barang tentu bermakna menghindarkan diri dari kegiatan penyembahan berhala-berhala dan memusatkan perhatian pada penyembahan kepada Allah. Mengapa nabi mengenal Allah padahal tidak pernah belajar teologi, filsafat, maupun agama, karena mengenal Allah adalah fitrah dalam diri manusia. Semacam software (meminjam bahasa komputer) dalam program roh yang ditiupkan Tuhan kedalam jiwa manusia. Perhatikan QS. Al Rum: 30. (Maka hadapkanlah dirimu kepada agama secara hanif. Adalah fitratallah yang membentuk diri manusia, tiada ganti ciptaan Allah, demikian itulah agama yang bernilai tapi sebagian besar umat manusia tidak menyadari). Mengapa software roh ini tidak muncul pada kebanyakan orang karena tertutup oleh virus hubbuddunya. Fitratallah itulah yang mendorong nabi melakukan khalwat dan tahannuts.

Berhala-berhala pada masa nabi masih simple dan gampang menghindarinya. Berahala-berhala modern lebih kompleks dan sulit menghindarinya. Dulu harta dan kekuasaan hanya sebagai pengantar menuju kepada keberhalaan. Kini, harta dan kekuasaan sendiri malah sudah menjadi berhala. Kondisi ini semakin menegaskan pentingnya tazkiyatunnnafs. Ajaran-ajaran formal agama sudah kurang efektif membendung penetrasi godaan berhala-berhala termasuk idola-idola modern. Kita perlu berkhalwat dan tahannuts, yakni perenungan dan kontemplasi, beribadah secara hanif, yakni ibadah yang bermutu dan efektif merubah perilaku menjadi lebih baik. Pada saat yang sama perlu tahannuts yakni ibadah yang dibarengi dengan bakti sosial.

Jika bagi nabi, khalwat dan tahannuts menghantarkannya kepada mimpi-mimpi yang indah, benar, dan nyata maka bagi manusia modern program khalwat dan tahannuts menghasilkan visi-visi yang cemerlang.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa khalwat dan tahannuts adalah tazkiyatunnafs nabi dalam menyongsong turunnya wahyu. Perenungan dan kontemplasi yang dibarengi dengan tahannuts (bakti sosial) akan melahirkan visi-visi yang cemerlang dan mencerahkan. Dengan khalwat manusia menghindarkan dirinya dari berhala-berhala yang dipersonifikasikan dalam kata ad dunya. Yakni bentuk mu’annats dari al adna (yang terendah). Maka kata ‘dunia’ berarti sesuatu yang berada pada titik terendah berhadapan dengan Yang Maha Tinggi yakni Allah SWT. Tapi di sini perlu reinterpretasi, karena makna menghindarkan dunia maksudnya tidak tergantung pada dunia, tidak menjadikan dunia sebagai tujuan hidup. Bahwa dunia harus dikelola dan diatur dengan baik merupakan kewajiban dan tugas utama manusia sebagai khalifah di bumi.

Intinya, jika dekat kepada Tuhan pasti jauh dari pengaruh dan godaan duniawi, jika dekat dan patuh kepada godaan duniawi pasti jauh dari Tuhan. Nah, bagaimana cara hidup yang dekat kepada Tuhan tapi tetap hidup di dunia? Dengan tazkiyatunnafs a la Rasulullah saw, yakni:
1. Membebaskan diri dari dengki, hasad, iri, dan curang
2. Memiliki sifat-sifat lapang dada, berpikiran luas, dan akomodatif atau fleksibal.
3. Berkhalwat melakukan kontemplasi perenungan-perenungan mendalam.
4. Bertahannuts: melakukan ibadah dengan sekhusyu’ mungkin.
5. Bakti sosial: memberikan pelayanan dan bantuan kepada sesama.

Barangkali, tidak berlebihan manakala kelima poin dalam tazkiyatunnaf Rasulullah saw tersebut merupakan intisari ajaran yang termuat secara rinci dan panjang lebar dalam al Qur’an. Diriwayatkan bahwa Aisyah mengatakan “akhlak Rasulullah itu adalah al Qur’an”. Yaitu karakter yang mempersonifikasikan al asmaul husna, tapi pada saat yang sama mengelola kehidupan dunia dengan baik. Tazkiyatunnafs dilakukan supaya dapat mengelola hidup ini dengan cemerlang dan mencerahkan. Dalam tradisi tasawuf ini dilakukan melalui sistimatika ahwal dan maqamat, yang pada esensinya tiada lain adalah usaha dan upaya (ijtihad) yang berkesinambungan untuk menjalin koneksitas kepada Allah (ma’iyatullah), sehingga berkarakter dan berakhlak mulia dalam rangka melaksanakan tugas selaku khalifah Allah di bumi.

Seharusnya kita malu pada Kanjeng Nabi sudah terlanjur mengaku muslim tapi pada saat yang sama memendam dengki, iri, dan kecurangan. Seharusnya kita malu pada Kanjeng Nabi sudah terlanjur muslim tapi pada saat yang sama tidak mampu berlapang dada, berpandangan luas, dan tidak saling menghormati. Seharusnya kita malu pada Kanjeng Nabi sudah terlanjur muslim tapi pada saat yang sama tidak berkarakter jujur. Mari belajar jujur dulu sebelum ber-Islam.

Source: mnkamba.wordpress.com

Sholat Calon Pemimpin

Written By Jurnalis on Thursday, April 24, 2014 | 10:00 PM

Oleh: Abdul Syukur

Sekarang, negara kita tercinta, Indonesia, sedang sibuk mencari pemimpin. Rakyat bingung menentukan pilihan, standar yang digunakan hanya berkutat di tataran intelektualitas dan lahiriyah calon pemimpin dan belum merambah ranah spiritual.

Dengan demikian, kesalehan hakiki mereka tidak pernah teruji dan tak pernah ada yang berusaha untuk mengujinya. Padahal kesalehan seperti inilah yang bisa menjamin baik tidaknya seorang pemimpin.

Jika mengaca pada sejarah, dulu saat prosesi pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah, diantara pertimbangan yang mengemuka ketika itu adalah, Abu Bakar pernah menjadi imam shalat menggantikan Nabi Muhammad SAW.

Kisah ini dinarasikan Ibnu Asakir dari Ibnu Umar. ‘’Rasulullah memerintahkan Abu Bakar memimpin shalat berjamaah, sedangkan saya menyaksikan sendiri, tidak ghaib, tidak sakit. Maka kami rela menyerahkan urusan dunia kami sebagaimana Rasulullah rela menyerahkan urusan agama kepadanya.’’

Pada era awal Islam, standar yang digunakan untuk menunjuk seorang pemimpin adalah faktor spiritual. Hal ini diwakili oleh agama dan tiang dari agama tidak lain adalah shalat.

Maka pantas jika kemudian hasil dari standar pemilihan semacam ini memunculkan pemimpin yang sesuai kehendak Allah.

Pastinya pula sesuai dengan kehendak manusia sebagai makhluk Allah. Shalat merupakan pengukur sekaligus penakar kesalehan seorang hamba.

Baik kesalehan terhadap Allah, maupun terhadap sesama. Jika shalat hamba tersebut baik, dalam arti sempurna dari segi syarat, rukun dan kekhusuannya, maka bisa dipastikan orang tersebut akan memiliki nilai kesalehan yang tinggi sebagai dampak dari shalatnya.

Hal tersebut ditegaskan langsung oleh Allah dalam surat al-Ankabut ayat 45, “Sesungguhnya shalat mencegah perbuatan keji dan munkar.”

Benar saja, orang yang saleh karena shalat, berarti mampu meresapi dan memegang prinsip-prinsip yang ada dalam shalat.

Paling tidak, orang itu selalu merasa diawasi Allah SWT. Sebab dalam shalat, seorang hamba diajari untuk merasa melihat Allah sejak takbiratul ihram sampai salam atau kalau tidak bisa merasa melihat Allah, paling tidak harus merasa dilihat oleh Allah.

Orang yang terbiasa merasa melihat Allah atau merasa dilihat oleh Allah SWT akan selalu hati-hati dalam melangkah, berhati-hati dalam bekerja. Hal yang menjadi pertimbangannya, sudah sesuaikah langkahnya atau apa yang dia kerjakan dengan kehendak Allah?

Kalau sesuai alhamdulillah, sebaliknya bila tidak, maka harus siap menerima siksa-Nya. Prinsip seperti ini akan membuat seorang hamba menjadi orang saleh, yang baik kepada manusia dan pencipta manusia, yang baik di depan umum maupun sedang sendirian.[sp/rol]

Orang seperti ini pulalah yang pantas menjadi pemimpin. Pertanyaannya sekarang, adakah diantara calon pemimpin kita yang seperti ini? Jika ada, sebutkan siapa? Jika tidak, sampai kapan negara kita terus seperti ini?

Zaman Keemasan Islam

Written By Jurnalis on Sunday, April 20, 2014 | 10:00 PM

Seribu tahun yang lalu umat Islam menjadi mercusuar peradaban dunia. Di tengah kegelapan bangsa-bangsa dunia, umat Islam menunjukan jati dirinya sebagai umat yang termaju. Ketika jalan-jalan di Perancis dan London masih becek akibat gerimis, kota-kota Islam seperti Baghdad , Kairo dan Kordoba sudah terang benderang di malam hari dengan dan jalan-jalan tertata rapi dan bersih. Ketika para pangeran di Eropa masih belajar menulis namanya, ilmuwan-ilmuwan muslim sudah menghasilkan ribuan karya di pelbagai bidang ilmu pengetahuan. Di kota Kordoba (Andalusia), ada 80 madrasah, di samping 8 perpustakaan, yang salah satunya memiliki tidak kurang dari 400.000 buku. Itu belum yang di Baghdad dan Kairo.

Banyaknya karya yang lahir pada zaman keemasan itu bisa dibayangkan dari data-data yang ada. Misalnya Abu Ya'la ibn Al Farra', seorang alim bermadzhab Hanbali yang hidup pada abad ke-12 di Baghdad. Dari tabaqat (biographical dictionary, kamus riwayat hidup) bisa diketahui bahwa ia menulis hampir seratus buku sekitar 80% dapat diketahui judulnya. Yang 20% tidak diketahui. Dari 80% itu, hanya sekitar 15% yang terselamatkan sampai sekarang. Ini bisa diketahui dari karya Carl Brockerman, Geshcichter der Arabischen Literatuur dan karya Fuad Sezgin Geschiscte des Arabischen Schrifttums. Sayang dua buku itu berbahasa Jerman sehingga sulit ditemukan dalam perpustakaan di negara kita.

Gambaran itu menunjukan betapa banyaknya karya yang hilang. Seandainya buku-buku yang pernah ditulis oleh sarjana-sarjana muslim itu terselamatkan semuanya, dunia akan semakin mengagumi jasa umat Islam dalam pembangunan peradaban dunia. Dalam situasi yang terbatas, belum ada listrik, belum ada mesin ketik, apalagi komputer, belum ada kertas, mereka bisa menghasilkan karya tulis sebesar itu.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan lahirnya zaman keemasan Islam itu. Pertama, penguasa yang bijak dan berminat terhadap ilmu. Marwan bin Hakam, khalifah umawiyah,memerintahkan ilmuwan untuk melacak naskah-naskah kuno warisan Yunani dan Romawi. Harun al Rasyid, khalifah Abbasiyah mengeluarkan dana besar untuk meneruskan pelacakan itu di berbagai penjuru dunia Islam, khususnya perpustakaan kuno di Iskandariyah (Mesir), Antioch (Syria) dan Jundisapur (Iran). Para penguasa juga menjadi patron ilmuwan. Mereka mengangkat ilmuwan untuk mengembangkan karyanya dengan gaji besar, dan menjadikan istana mereka sebagai tempat halaqah yang menghadirkan ilmuwan-ilmuwan di daerah sekitar.

Kedua, keterbukaan. Banyak sarjana muslim belajar dari orang-orang Yahudi dan Kristen tentang ilmu pengetahuan, teologi dan bahasa tanpa ada hambatan psikologis. Sebaliknya, orang-orang Kristen, Yahudi dan Majusi juga belajar dari sarjana-sarana muslim tanpa ada perasaan inferior (rendah diri). Joel Kraemer dalam bukunya Humanism in the Renaissance of Islam meneliti dengan cermat dinamika intelektual lintas agama dan budaya pada zaman Abbasiyah. Budaya Jadal (debat) dan munazharah (tukar fikiran) berkembang bak jamur di musim hujan. Kitab-kitab yang bernuansa Naqd (kritik) dan radd (bantahan) adalah pemandangan yang biasa didapatkan di perpustakaan-perpustakaan dan toko buku. Sekalipun kadang-kadang terdapat ketegangan sektarian, tetapi itu muncul hanya di tingkat massa.

Madrasah dan masjid menemukan karakternya untuk mengembangkan ilmu-ilmu agama, seperti Al Quran, Hadits dan Fiqh. Sedangkan perpustakaan menjadi media transformasi filsafat, teologi, metematika dll. Rumah sakit menjadi tempat pengembangan ilmu kedokteran. Observatorium menjadi arena perkembangan ilmu falak. 

Kita perlu belajar dari masa lampau. Kejayaan tidak bisa lepas dari kemajuan ilmu pengetahuan. Knowledge is power (ilmu adalah kekuasaan). Jika ingin berjaya, umat Islam harus unggul dalam ilmu. Keunggulan itu tidak mungkin ada tanpa ada minat baca. Karena itu kita harus berjuang meningkatkan minat baca umat kita. Sayangnya kita masih berada pada tradisi lisan (oral tradition) dan belum tradisi tulis (literature tradition).


Dikutip dari Buku Di Balik Simbol ; Memahami Pesan Agama dengan Semangat Kemajuan karangan Prof. Dr. Syafiq A. Mughni (Ketua PP. Muhammadiyah)

Mengapa Nabi Musa Paling Sering Disebut di Dalam Al Qur’an?

Written By Jurnalis on Friday, April 18, 2014 | 5:00 PM

Pertanyaan ini tiba-tiba dilontarkan, mengapa? Ya, dan baru ku tahu juga bahwa memang demikian. Percaya? Kalau tidak, silakan dihitung sendiri… hehhe… atau lihat saja menggunakan Qur’an counter.:P
Langsung saja deh… Mengapa ya…ada yang tahu?

Jawabannya singkat,

“Karena Allah ingin kisah Musa menjadi pelecut semangat Rasulullah Muhammad Saw”

Ada banyak alasan mengapa demikian, akan kita bahas di sini.
“Dia (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekauanku dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.” (Thaha:25-28)

Ini adalah doa Nabi Musa tatkala akan menghadapi Fir’aun. Musa bukanlah seorang Nabi yang fasih sebagaimana Nabi Muhammad. Sejarahnya entah seperti apa (mungkin ada yang tahu), sehingga menyebabkan lidahnya cacat, dan bicaranya kelu. Meskipun demikian kondisinya, Nabi Musa tetap berdakwah dengan segala keterbatasannya. Maka Allah ingin nabi Muhammad yang lebih fasih berbicara untuk lebih luar biasa lagi semangatnya dalam berdakwah.

Alasan yang kedua, bahwa ada perbedaan track record antara Nabi Musa dan Nabi Muhammad. Sejak lahir, nabi Muhammad sudah terjaga, nama baiknya, kepribadiannya, bahkan terkenal kejujurannya hingga mendapat gelar Al-Amin. Namun, Nabi Musa tidak begitu. Beliau pergi dari Mesir adalah karena telah membunuh seseorang. Maka sudah semestinya Nabi Muhammad lebih berhasil dalam mendakwahkan Islam kepada kaumnya, karena tidak ada riwayat keburukan atau dosa yang dilakukan Rasul.

“…. Dan kamu pernah membunuh seorang manusia[917], lalu Kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan; maka kamu tinggal beberapa tahun diantara penduduk Madyan[918], kemudian kamu datang menurut waktu yang ditetapkan[919] hai Musa,”

Yang dibunuh adalah seorang bangsa Qibti yang sedang berkelahi dengan seorang Bani Israil sebagaimana yang dikisahkan dalam Al Qashash 15.

Sekali lagi, bahwa kisah Nabi Musa dapat menjadi pelecut semangat Rasulullah. Mengapa? Alasan selanjutnya berdasarkan ayat berikut,

“Yaitu: "Letakkanlah ia (Musa) didalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir'aun) musuh-Ku dan musuhnya. Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku[916]; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku,” (Thaha:39)

Musa, sejak kecil (bayi) diasuh oleh Fir’aun -musuhnya dan musuh Allah-. Ada semacam perasaan hutang budi Musa kepada Fir’aun. Berbeda dengan Nabi Muhammad, yang tidak punya rasa hutang budi satu pun pada siapapun.

Alasan terakhir adalah bahwa dalam perjuangannya berdakwah, Nabi Muhammad ditemani oleh begitu banyak sahabat. Sahabat itu yang sedia menjawab setiap seruan dakwah termasuk qital, sahabat yang bahkan sedia menjadi tameng saat nabi terjebak lontaran panah musuh yang tiada henti menyerang. Sahabat yang rela berlapar dan berkorban dalam perjuangan perang demi perang. Dan banyak sekali yang dilakukan sahabat bersama sang Nabi.

Sebaliknya, Nabi Musa, dia hanya punya seorang sahabat bernama Harun. Bahkan, Musa lah yang memohon hal ini pada Allah, sebagaimana disebut dalam Surat Thaha 29-36.

“dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku. Teguhkanlah kekuatanku dengan (adanya) dia, dan jadikanlah dia teman dalam urusanku, agar kami banyak bertasbih kepada-Mu, dan banyak mengingat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Melihat (keadaan) kami” Dia (Allah) berfirman, “Sungguh, telah diperkenankan permintaanmu, wahai Musa!”

Nabi Muhammad kemudian mendapat banyak pengikut, bahkan hingga saat ini. Berbeda dengan Nabi Musa.

“Dia (Allah) berfirman, “Sungguh, Kami telah menguji kaummu setelah engkau tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh Samiri” Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. Dia (Musa) berkata, “Wahai kaumku! Bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik? Apakah terlalu lama masa perjanjian itu bagimu atau kamu menghendaki agar kemurkaan Tuhan menimpamu, mengapa kamu melanggar perjanjian dengan aku?” (Q.S Thaha 85-86)

Ya, umat Nabi Musa akhirnya menyembah patung sapi yang dibuat oleh Samiri. Hal itu karena mereka (kaum Musa) tidak sabar dengan tenggang waktu 40 malam yang telah diberikan Allah untuk menerima petunjuk (Taurat). Ini disebutkan juga dalam Al Baqarah 51. Nabi musa ditinggalkan oleh kaum yang sebelumnya menjadi pengikutnya dan telah diselamatkan Allah melalui terbelahnya lautan.

Mereka, kaum yang akhirnya membelot itu malah semakin terang-terangan tidak mengakui Allah dengan berkata pada Musa, “Wahai Musa, Kami tidak tahan dengan satu macam makanan saja, maka mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia memberi kami apa yang ditumbuhkan bumi seperti: sayur mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas, dan bawang merah” (Al Baqarah 61)

Perhatikan, bahwa kaumnya memakai kata “Tuhanmu”, bukan Tuhan kita. Artinya, memang mereka sudah tidak lagi mengakui tuhannya Musa, karena mereka membelot pada patung anak sapi yang tidak dapat memberi jawaban kepada mereka, dan tidak kuasa menolak mudharat maupun mendatangkan manfaat kepada mereka.

Inilah beberapa hal Rasulullah dapat jadikan pelecut dakwah beliau. Banyak cobaan dan ujian yang dialami oleh musa dalam berdakwah, bahkan akhirnya, kaumnya membelot. Namun, itu tak menghalangi semangat dakwah Nabi Musa.

Materi ini diambil dari tausyah yang disampaikan ust. Salim dalam acara cermin di universitas Indonesia

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Rilis Berita Islam - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger